digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT X mengelola jaringan rantai pasok BBM berskala nasional yang mencakup kilang dan terminal BBM dengan 135 titik terminal, delapan produk, serta empat moda angkut berupa kapal, pipa, RTW, dan mobil tangki. Akar permasalahannya adalah belum tersedianya metode kuantitatif yang mampu menentukan SCND optimal secara simultan terhadap seluruh pertimbangan multimoda, multiproduk, multiport, alokasi blending, dan batasan sarana prasarana. Penyusunan konfigurasi yang bertumpu pada rute existing menghasilkan pelayaran multiport, dominasi kapal berkapasitas kecil, dan total biaya suplai serta handling and storage sebesar USD1.197.374.658,06 per tahun. Penelitian ini dilaksanakan dengan metodologi perancangan sistem yang terdiri atas observasi dan analisis awal, studi literatur, pengembangan serta verifikasi dan validasi model, analisis dan sintesis hasil perancangan, hingga penarikan kesimpulan. Model yang dikembangkan adalah model Mixed Integer Linear Programming dengan fungsi objektif minimasi total biaya yang terdiri atas sembilan komponen, meliputi biaya at sea, at port produktif dan non-produktif, port charges, biaya pipa, RTW, mobil tangki, serta handling and storage. Model dibatasi oleh keseimbangan material, rasio blending, kapasitas kapal dan kompartemen, draft serta berth occupancy ratio jetty, dan kapasitas moda darat, kemudian diselesaikan menggunakan solver Gurobi untuk dua periode semester. Hasil perancangan memenuhi seluruh permintaan sebesar 68.388.211,52 kL dengan total biaya sebesar USD1.201.836.048,93 termasuk jalur impor dan USD906.817.347,79 tanpa jalur impor, sehingga menghasilkan penghematan sebesar USD290.557.310,27 atau 24,27% dibandingkan kondisi existing pada basis perbandingan yang setara, dengan biaya rata-rata per kiloliter permintaan sebesar USD13,26. Analisis menunjukkan bahwa penghematan bersumber dari pelayaran, yaitu penurunan kebutuhan call kapal sebesar 49,44%, pergeseran pola pelayaran dari multiport menjadi single port, serta pengalihan armada menuju kapal berkapasitas besar, sementara ketiga moda darat hanya menyumbang sekitar dua persen dari total biaya. Analisis sensitivitas terhadap waiting time menunjukkan perubahan fungsi objektif paling besar sebesar 5,51% sehingga model tergolong stabil, namun kenaikan permintaan sebesar satu persen pada semester 2 menyebabkan model menjadi infeasible akibat banyaknya pembatas yang telah menyentuh utilisasi maksimal.