OPTIMALISASI SISTEM TRANSMISI AIR BAKU SERTA DESAIN UNIT INTAKE, KOAGULASI, DAN FLOKULASI PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) III KRIKILAN DI PT ADARO TIRTA GRESIK, KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
PT Adaro Tirta Gresik mengoperasikan IPA Krikilan dengan kapasitas total 400 Lps, terdiri atas tiga IPA paralel, termasuk IPA III berkapasitas 100 Lps yang memanfaatkan Kali Surabaya sebagai sumber air baku. Sistem pengolahan IPA III meliputi intake, coarse screen, fine screen, bak pengumpul, koagulasi, flokulasi, sedimentasi plate settler, filtrasi, desinfeksi, reservoir, serta pengolahan lumpur. Kondisi eksisting menunjukkan debit air baku pada intake sebesar 420 Lps, sedangkan IPA III baru beroperasi sekitar 73 Lps. Hasil evaluasi karakteristik dan ketersediaan air baku menunjukkan bahwa Kali Surabaya memenuhi baku mutu Kelas I dan sesuai sebagai sumber air baku air minum. Namun, parameter E. coli, Total Coliform, kekeruhan, dan sisa klor belum memenuhi baku mutu air minum sehingga memerlukan pengolahan di IPA. Dari aspek kuantitas dan kontinuitas, debit minimum sebesar 20 m³/s masih jauh melebihi kebutuhan IPA Krikilan. Sumber air baku juga dinilai terjangkau dengan jarak transmisi ±80,1 m dan perbedaan elevasi 11–14 mdpl. Sementara itu, parameter TDS pada air olahan masih belum memenuhi baku mutu air minum. Berdasarkan hasil evaluasi, unit pintu air, coarse screen, dan bak pengumpul intake telah memenuhi kriteria desain, sehingga rekomendasi pada ketiga unit tersebut difokuskan pada peningkatan aspek operasional dan pemeliharaan. Pada unit fine 3 screen, lebar bukaan antar batang eksisting sebesar 15 mm belum memenuhi kriteria, sehingga direkomendasikan penggantian screen dengan spesifikasi lebar bukaan yang sesuai. Pada sistem transmisi, kecepatan aliran pada pipa yang tinggi menyebabkan kehilangan tekan mencapai 33% terhadap head statis dan melampaui kriteria maksimum, sehingga dikaji tiga alternatif optimalisasi, yaitu pembesaran diameter pipa, penggantian material pipa dengan koefisien kekasaran lebih rendah, serta pemasangan pipa paralel. Pada unit koagulasi, zona injeksi koagulan telah memenuhi kriteria. Namun, perubahan pada sistem perpipaan transmisi menuntut penyesuaian zona pencampuran melalui alternatif pemasangan reducer, relokasi titik injeksi, atau pemasangan static mixer, yang disertai perbandingan dosis koagulan eksisting terhadap dosis optimum hasil jar test. Pada unit flokulasi bak tahap pertama, kecepatan aliran dan gradien kecepatan mencapai di angka 1,23 m/s dan 123,4 detik?¹ yang menandai bahwa angka tersebut melampaui kriteria, sehingga direkomendasikan pembesaran dimensi bukaan sekat dan modifikasi jumlah lubang pada perforated wall. Penentuan alternatif terpilih dilakukan menggunakan metode gabungan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Simple Additive Weighting (SAW). Berdasarkan hasil pembobotan, alternatif terpilih meliputi penggantian fine screen dengan spesifikasi lebar bukaan 6 mm, tebal batang 6 mm, dan lebar batang 50 mm sejumlah 200 batang; pembesaran diameter pipa transmisi dari 250 mm menjadi 300 mm; pemasangan reducer 300 mm × 250 mm untuk mempertahankan zona pencampuran koagulan eksisting; serta pembesaran bukaan sekat menjadi 0,55 m × 0,28 m dan penambahan jumlah lubang perforated wall menjadi 144 lubang pada unit flokulasi. Berdasarkan hasil perhitungan, perkiraan biaya Capital Expenditure (CAPEX) untuk kegiatan optimalisasi IPA III Krikilan keseluruhan sebesar Rp5.063.272.442. Sedangkan untuk perkiraan biaya Operational Expenditure (OPEX) untuk unit pengolahan IPA Krikilan keseluruhan sebesar Rp13.747.681.166. Berdasarkan hasil analisis kelayakan finansial optimalisasi IPA III Krikilan dari debit operasi eksisting sebesar 73 Lps menjadi 100 Lps sesuai kapasitas rencana, diperoleh NPV sebesar Rp47.165.321.916 dan BCR sebesar 9,61. Selain itu, waktu pengembalian investasi 4 diperoleh sebesar 1,053 tahun berdasarkan simple payback period dan 1,120 tahun berdasarkan discounted payback period. Dari aspek institusional dan manajemen, pelaksanaan optimalisasi perlu didukung dengan pembaruan SOP serta pemantauan kinerja secara berkala untuk menjamin keberlanjutan operasi dan pemeliharaan. Pengelolaan IPA juga tetap mengacu pada regulasi yang berlaku, yaitu PP No. 22 Tahun 2021, Permenkes No. 2 Tahun 2023, SNI 6774:2023, dan Perbup Gresik No. 33 Tahun 2025. Selain itu, partisipasi masyarakat diperlukan melalui pemeliharaan sarana dan prasarana SPAM serta upaya menjaga kualitas Kali Surabaya sebagai sumber air baku IPA Krikilan.
Perpustakaan Digital ITB