Pertumbuhan aktivitas logistik perkotaan akibat peningkatan perdagangan dan ecommerce menimbulkan tekanan terhadap sistem distribusi barang di Kota
Surabaya. Sebagai salah satu pusat logistik utama di Indonesia bagian timur, Kota
Surabaya memiliki karakteristik jaringan jalan yang padat, dinamis, dan
dipengaruhi oleh variasi kondisi lalu lintas pada periode waktu tertentu yang juga
berdampak pada distribusi PT Pos Indonesia, khususnya karena rute distribusi yang
hanya berorientasi pada jarak terpendek belum tentu menghasilkan perjalanan yang
efisien apabila ruas jalan yang dilalui memiliki tingkat kejenuhan tinggi. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan rute alternatif distribusi PT Pos
Indonesia melalui pendekatan Vehicle Routing Problem dengan
mempertimbangkan Derajat Kejenuhan jalan di Kota Surabaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasiexperimental, yaitu membandingkan kinerja distribusi sebelum dan sesudah
penerapan model optimasi. Data yang digunakan meliputi titik layanan PT Pos
Indonesia, titik utama distribusi, permintaan barang, kapasitas kendaraan, jadwal
operasional, jaringan jalan, serta data derajat kejenuhan jalan Kota Surabaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capacitated Vehicle Routing
Problem Time Window (CVRPTW) dengan mempertimbangkan derajat kejenuhan
jalan sebagai indikator hambatan perjalanan. Derajat kejenuhan tidak digunakan
hanya sebagai informasi kinerja lalu lintas, tetapi diinterpretasikan ke dalam bentuk
biaya efektif perjalanan melalui bobot hambatan ruas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rute berbasis jarak tidak selalu menghasilkan
biaya perjalanan terendah ketika derajat kejenuhan jalan diperhitungkan. Pada
kondisi eksisting, total jarak rute aktual mencapai 372,03 km dengan total biaya
efektif sebesar 603,10. Setelah dilakukan perbaikan urutan rute tanpa mengubah
struktur kendaraan dan titik layanan, total jarak menurun dengan penghematan
biaya mencapai 15,25% dibandingkan kondisi aktual. Namun, penataan ulang
distribusi melalui skenario rencana menghasilkan efisiensi yang lebih besar.
Skenario optimasi dengan 2 cluster dan 2 titik utama distribusi menghasilkan jarak
214,96 km dan biaya efektif 350,41, skenario 4 cluster dan 2 titik utama distribusiii
menghasilkan jarak 202,31 km dan biaya efektif 334,54, sedangkan skenario 4
cluster dan 4 titik utama distribusi menghasilkan jarak 192,48 km dan biaya efektif
318,00. Secara teknis, skenario 4 cluster dan 4 titik utama distribusi merupakan
skenario paling efisien karena menghasilkan jarak dan biaya efektif terendah.
Namun, skenario tersebut membutuhkan perubahan fungsi beberapa titik layanan
menjadi titik utama distribusi, penambahan sumber daya, penyediaan sarana kerja,
penyesuaian sistem, serta perubahan prosedur operasional. Berdasarkan
pertimbangan efisiensi dan kelayakan implementasi, skenario 4 cluster dan 2 titik
utama distribusi dinilai sebagai alternatif yang paling layak diterapkan dalam
jangka pendek karena tetap memberikan efisiensi tinggi, memenuhi time window,
dan tidak menuntut perubahan kelembagaan sebesar skenario 4 cluster dan 4 titik
utama distribusi.
Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi derajat kejenuhan jalan sebagai dasar
pembentukan biaya perjalanan dalam model Vehicle Routing Problem untuk
distribusi logistik perkotaan. Berbeda dari pendekatan yang umumnya berbasis
jarak, waktu tempuh statis, atau data kecepatan dinamis, penelitian ini
menggunakan derajat kejenuhan sebagai proksi hambatan lalu lintas ketika data
waktu tempuh dinamis belum tersedia secara lengkap. Kontribusi penelitian ini
adalah menyediakan kerangka optimasi rute yang menghubungkan kinerja jalan,
biaya efektif ruas, dan kelayakan implementasi, sehingga dapat mendukung
pengambilan keputusan rute distribusi PT Pos Indonesia serta pengelolaan koridor
logistik perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB