digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan aktivitas logistik perkotaan akibat peningkatan perdagangan dan ecommerce menimbulkan tekanan terhadap sistem distribusi barang di Kota Surabaya. Sebagai salah satu pusat logistik utama di Indonesia bagian timur, Kota Surabaya memiliki karakteristik jaringan jalan yang padat, dinamis, dan dipengaruhi oleh variasi kondisi lalu lintas pada periode waktu tertentu yang juga berdampak pada distribusi PT Pos Indonesia, khususnya karena rute distribusi yang hanya berorientasi pada jarak terpendek belum tentu menghasilkan perjalanan yang efisien apabila ruas jalan yang dilalui memiliki tingkat kejenuhan tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan rute alternatif distribusi PT Pos Indonesia melalui pendekatan Vehicle Routing Problem dengan mempertimbangkan Derajat Kejenuhan jalan di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasiexperimental, yaitu membandingkan kinerja distribusi sebelum dan sesudah penerapan model optimasi. Data yang digunakan meliputi titik layanan PT Pos Indonesia, titik utama distribusi, permintaan barang, kapasitas kendaraan, jadwal operasional, jaringan jalan, serta data derajat kejenuhan jalan Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capacitated Vehicle Routing Problem Time Window (CVRPTW) dengan mempertimbangkan derajat kejenuhan jalan sebagai indikator hambatan perjalanan. Derajat kejenuhan tidak digunakan hanya sebagai informasi kinerja lalu lintas, tetapi diinterpretasikan ke dalam bentuk biaya efektif perjalanan melalui bobot hambatan ruas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rute berbasis jarak tidak selalu menghasilkan biaya perjalanan terendah ketika derajat kejenuhan jalan diperhitungkan. Pada kondisi eksisting, total jarak rute aktual mencapai 372,03 km dengan total biaya efektif sebesar 603,10. Setelah dilakukan perbaikan urutan rute tanpa mengubah struktur kendaraan dan titik layanan, total jarak menurun dengan penghematan biaya mencapai 15,25% dibandingkan kondisi aktual. Namun, penataan ulang distribusi melalui skenario rencana menghasilkan efisiensi yang lebih besar. Skenario optimasi dengan 2 cluster dan 2 titik utama distribusi menghasilkan jarak 214,96 km dan biaya efektif 350,41, skenario 4 cluster dan 2 titik utama distribusiii menghasilkan jarak 202,31 km dan biaya efektif 334,54, sedangkan skenario 4 cluster dan 4 titik utama distribusi menghasilkan jarak 192,48 km dan biaya efektif 318,00. Secara teknis, skenario 4 cluster dan 4 titik utama distribusi merupakan skenario paling efisien karena menghasilkan jarak dan biaya efektif terendah. Namun, skenario tersebut membutuhkan perubahan fungsi beberapa titik layanan menjadi titik utama distribusi, penambahan sumber daya, penyediaan sarana kerja, penyesuaian sistem, serta perubahan prosedur operasional. Berdasarkan pertimbangan efisiensi dan kelayakan implementasi, skenario 4 cluster dan 2 titik utama distribusi dinilai sebagai alternatif yang paling layak diterapkan dalam jangka pendek karena tetap memberikan efisiensi tinggi, memenuhi time window, dan tidak menuntut perubahan kelembagaan sebesar skenario 4 cluster dan 4 titik utama distribusi. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi derajat kejenuhan jalan sebagai dasar pembentukan biaya perjalanan dalam model Vehicle Routing Problem untuk distribusi logistik perkotaan. Berbeda dari pendekatan yang umumnya berbasis jarak, waktu tempuh statis, atau data kecepatan dinamis, penelitian ini menggunakan derajat kejenuhan sebagai proksi hambatan lalu lintas ketika data waktu tempuh dinamis belum tersedia secara lengkap. Kontribusi penelitian ini adalah menyediakan kerangka optimasi rute yang menghubungkan kinerja jalan, biaya efektif ruas, dan kelayakan implementasi, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan rute distribusi PT Pos Indonesia serta pengelolaan koridor logistik perkotaan.