digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

OPTIMALISASI DESAIN UNIT SEDIMENTASI, FILTRASI, DAN DISINFEKSI PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) III KRIKILAN PT ADARO TIRTA GRESIK, KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK
Terbatas  Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan

IPA Krikilan PT Adaro Tirta Gresik merupakan instalasi pengolahan air konvensional yang beroperasi dari tahun 2014 dan berkapasitas 400 Lps. Salah satu dari IPA yang beroperasi, yakni IPA III dengan kapasitas 100 Lps, telah dibangun dari tahun 2017 yang saat ini beroperasi pada debit 73 Lps, memanfaatkan Kali Surabaya sebagai sumber baku. Perbedaan antara kapasitas terpasang dan debit operasional aktual ini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam evaluasi, mengingat keterkaitannya dengan kinerja unit pengolahan yang akan dikaji lebih lanjut. Pengolahan yang ada pada IPA tersebut meliputi intake, screening, bak pengumpul, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, disinfeksi, reservoir, dan pengolahan lumpur. Berdasarkan evaluasi, kualitas air baku ini memenuhi standar Kelas I namun memerlukan pengolahan lebih lanjut karena parameter E.Coli, Total Coliform, sisa klor dan kekeruhan yang belum memenuhi baku mutu air minum. Kebutuhan pengolahan yang optimal ini semakin penting mengingat pertumbuhan Kabupaten Gresik sebagai kawasan industri, salah satunya ditandai keberadaan Kawasan Industri JIIPE, yang turut mendorong peningkatan kebutuhan pasokan air bersih di wilayah sekitarnya. Seiring waktu operasional, teridentifikasi berbagai permasalahan pada unit sedimentasi, filtrasi, dan disinfeksi yang berpotensi menurunkan efektivitas iii pengolahan, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi eksisting dibandingkan dengan kriteria desain dan literatur yang berlaku. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada unit sedimentasi, plate settler eksisting tidak terendam air mengakibatkan kecepatan pada settler melebihi kriteria dan memicu fenomena carry over flok ke unit filtrasi. Pada unit filtrasi, ditemukan freeboard dari puncak media ke bibir talang yang tidak memenuhi kriteria dual-media, menyebabkan media loss, khususnya lapisan antrasit dengan frekuensi top-up yang lebih sering dari kondisi normal, disertai durasi backwash yang berada di bawah standar. Pada unit disinfeksi, sisa klor di instalasi pada kondisi eksisting berada di bawah kriteria, tanpa margin untuk mengakomodasi peluruhan klorin sepanjang jaringan distribusi. Pemilihan alternatif optimalisasi dilakukan menggunakan metode gabungan Simple Additive Weighting (SAW) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mempertimbangkan parameter biaya investasi, biaya operasional, kemudahan pengadaan material, kemudahan operasional, efektivitas desain, dan kemudahan konstruksi. Pada unit sedimentasi, terpilih penambahan perforated baffle wall pada zona inlet untuk meredam turbulensi aliran, serta penggantian plate settler menjadi tube settler pada zona pengendapan untuk menyelesaikan permasalahan submergence sekaligus meningkatkan kapasitas tangkap partikel dengan memanfaatkan luas pengendapan yang lebih besar tanpa adanya penambahan bak. Pada unit filtrasi, terpilih peninggian elevasi talang / wash water through disertai penambahan V-notch untuk mengatasi kekurangan freeboard pada saat media berekspansi. Pada unit disinfeksi, terpilih peningkatan dosis klorin NaOCl untuk memenuhi kriteria sisa klor instalasi yang sebelumnya berada tanpa margin untuk mengakomodasi peluruhan klorin sepanjang jaringan distribusi hingga ke pelanggan terjauh. berdasarkan data jartest aktual, namun, jar test harus dilakukan secara berkala untuk masa terkini agar menyesuaikan dengan musim atau kondisi tertentu, mengingat chlorinde demand air baku berpotensi bervariasi seiring perubahan kualitas air baku antar musim. Berdasarkan estimasi biaya, kebutuhan investasi (CAPEX) untuk keseluruhan satu IPA III Krikilan diperkirakan sebesar Rp. 5.063.272.442. Adapun biaya operasional (OPEX) keseluruhan unit pada IPA Krikilan adalah sebesar Rp. 13.747.681.166,64. Analisis kelayakan finansial menggunakan pendekatan incremental cash flow dengan membandingkan proyeksi manfaat proyek terhadap biaya operasional tambahan akibat optimalisasi. Hasil menunjukkan nilai NPV berada pada Rp. 47.165.321.916 selama periode 10 tahun operasional, dengan BCR sebesar 9,61. Maka, proyek optimalisasi IPA Krikilan ini layak untuk dilaksanakan dengan Payback Period relatif singkat, yakni 1,053 tahun untuk simple payback dan 1,12 tahun untuk discounted payback.