digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Raidan Alviresia Darajatun
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Tangerang Selatan tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada tahun 2024, di tengah pesatnya urbanisasi kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), membuat keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik sebagai elemen penting penyedia jasa ekosistem lingkungan perkotaan menjadi krusial. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kapasitas serap dan simpan karbon pohon di Taman Kota TK-1 dan TK-2 BSD, Kecamatan Serpong, menurunkan valuasi ekonominya menggunakan pendekatan Cost of Illness (CoI) yang mengaitkan kapasitas karbon RTH dengan biaya kesehatan akibat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta merumuskan skenario optimasi komposisi jenis pohon sebagai rekomendasi konkret pengelolaan RTH yang lebih optimal. Pengukuran lapangan dilakukan pada tujuh plot berukuran 20 m × 20 m di masing masing taman menggunakan pendekatan stratified sampling di sepanjang sumbu memanjang taman, mencatat seluruh individu pohon berdiameter setinggi dada (DBH) minimal 10 cm. Biomassa dan cadangan karbon dihitung menggunakan persamaan alometrik untuk jenis dikotil dan palem, sedangkan daya serap CO2 tahunan diprioritaskan dari nilai literatur jenis. Hasil penelitian menunjukkan TK-1 BSD memiliki 138 individu pohon dari 21 jenis, sedangkan TK-2 BSD memiliki 167 individu dari 23 jenis. Hasil ekstrapolasi terhadap luas efektif taman menunjukkan cadangan karbon sebesar 1.569,45 ton CO2eq untuk TK-1 BSD dan 828,66 ton CO2eq untuk TK-2 BSD, serta daya serap CO2 tahunan sebesar 4.213,41 ton per tahun untuk TK-1 BSD dan 3.038,42 ton per tahun untuk TK-2 BSD. Secara gabungan, kedua taman diperkirakan menyimpan 2.398,11 ton CO2eq dan menyerap 7.251,83 ton CO2 per tahun. Nilai CoI Kecamatan Serpong akibat kasus ISPA tahun 2025 dihitung sebesar Rp 8.488.440.336,78 per tahun, yang menjadi dasar penurunan harga bayangan karbon. Nilai ekonomi rata rata per individu pohon berkisar Rp 1.821.432 hingga Rp 4.508.637 per pohon untuk jasa daya simpan, dan Rp 2.208.545 hingga Rp 4.002.696 per pohon per tahun untuk jasa daya serap, dengan TK-1 BSD secara konsisten menghasilkan nilai per hektar lebih tinggi daripada TK-2 BSD. Skenario optimasi dapat. .menunjukkan bahwa penggantian bertahap jenis berkapasitas rendah dengan populasi besar, yaitu Palem Besar menjadi Jati di TK-1 BSD dan Pinus menjadi Mahoni di TK-2 BSD, berpotensi meningkatkan nilai ekonomi jasa ekosistem karbon pada skala taman penuh hasil ekstrapolasi hingga sekitar Rp 52.997.629 per tahun untuk TK-1 BSD dan Rp 42.344.222 per tahun untuk TK-2 BSD, tanpa memerlukan perluasan lahan RTH. Hasil ini menunjukkan bahwa komposisi jenis dan ukuran pohon, bukan semata mata jumlah individu, menjadi faktor penentu utama besarnya jasa ekosistem karbon yang dihasilkan RTH publik, dan dapat menjadi dasar kuantitatif bagi kebijakan pengelolaan serta optimasi komposisi jenis RTH di Kota Tangerang Selatan.