digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Riza Aulia Putra
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat risiko seismik yang tinggi. Berbagai peristiwa gempa besar telah menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan publik, terutama yang dibangun dengan praktik konstruksi swadaya masyarakat. Di sisi lain, sejumlah Masjid Tradisional Aceh yang menggunakan sistem konstruksi kayu justru mampu bertahan terhadap beban gempa dengan tingkat kerusakan yang relatif rendah. Fenomena ini menunjukkan adanya pengetahuan tektonika lokal yang berkembang melalui pengalaman adaptif masyarakat dalam merespons risiko seismik. Namun, pengetahuan tersebut masih berada dalam bentuk implisit, belum sepenuhnya diformalkan sebagai sistem pengetahuan konstruksi, dan belum dioperasionalkan sebagai dasar pengembangan desain arsitektur masa kini yang tangguh terhadap gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dalam membentuk respons dan ketangguhan seismik bangunan, merumuskan Unit Pengetahuan Tektonika Lokal (UPTL) yang berkontribusi terhadap mekanisme ketangguhan seismik, serta menyusun model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai kerangka konseptual dan operasional bagi pengembangan desain arsitektur masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain sekuensial melalui tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada identifikasi data empiris melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, dokumentasi, serta pengukuran dengan Terrestrial Laser Scanning pada lima objek studi Masjid Tradisional Aceh. Tahap kedua melakukan evaluasi performa seismik melalui analisis numerik multiskala, yaitu analisis pushover dan time history pada skala bangunan serta finite element analysis (FEA) pada skala sambungan balok-kolom. Tahap ketiga melakukan sintesis dan translasi pengetahuan melalui perumusan unit pengetahuan, kriteria desain, parameter desain, serta penyusunan model konseptual-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketangguhan seismik Masjid Tradisional Aceh terbentuk melalui kerja terpadu antara keteraturan geometri, sistem struktur inti-perimeter, sistem rangka kayu, sambungan mortise–tenon, sistem tumpuan, dan strategi material ringan. Karakteristik tersebut tidak bekerja sebagai elemen tunggal, melainkan sebagai sistem tektonika yang saling terkait dalam mengendalikan respons bangunan terhadap beban gempa. Penelitian ini merumuskan 21 UPTL yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu geometri bangunan, sistem struktur, sistem konstruksi, dan material bangunan. Unit-unit tersebut kemudian diturunkan menjadi 39 kriteria desain dan 80 parameter desain. Model regenerasi dikembangkan melalui pendekatan konseptual-parametrik dengan lima alternatif konfigurasi modul. Selanjutnya, dua model dengan konfigurasi 16 modul dan 25 modul dipilih sebagai model konseptual siap uji. Hasil uji model menunjukkan bahwa kedua model memenuhi kategori Immediate Occupancy pada analisis pushover dan time history. Pada skala sambungan, hasil finite element analysis menunjukkan bahwa logika sambungan mortise–tenon masih dapat dipertahankan ketika material ditranslasikan ke kayu rekayasa, meskipun respons deformasi dan tegangan lokal bervariasi pada setiap sambungan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dapat menjadi dasar pengembangan desain bangunan tangguh gempa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap keterbatasan praktik konstruksi masyarakat. Temuan ini juga menegaskan bahwa pelestarian arsitektur tradisional perlu diarahkan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada pemahaman logika konstruksi, sistem sambungan, strategi material, dan mekanisme performa yang terkandung di dalamnya. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini memformalkan pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh menjadi UPTL yang dapat ditranslasikan ke dalam kriteria desain dan parameter desain. Kedua, penelitian ini merumuskan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif dalam pengembangan arsitektur tangguh gempa yang berakar pada kearifan lokal, dengan menempatkan pengetahuan konstruktif tradisional sebagai sistem pengetahuan yang dapat diregenerasi dan dioperasionalkan, bukan sekadar dilestarikan. Ketiga, penelitian ini mengintegrasikan dokumentasi empiris, pengetahuan implisit, analisis numerik multiskala, dan pemodelan konseptual–parametrik untuk mengungkap mekanisme performa seismik pada sistem struktur dan sambungan tradisional secara terukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Tradisional Aceh tidak hanya dapat dipahami sebagai objek warisan arsitektur, tetapi sebagai sistem pengetahuan konstruksi yang memiliki logika performatif terhadap risiko gempa. Ketangguhan seismiknya terbentuk melalui relasi antarelemen tektonika yang bekerja secara terpadu, sedangkan model regenerasi yang dirumuskan menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tersebut dapat diformalkan menjadi perangkat desain dan diuji secara numerik tanpa mereproduksi bentuk tradisional secara literal. Kesimpulan ini menempatkan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif bagi pengembangan desain masjid masa kini yang tangguh, adaptif, dan kontekstual terhadap kondisi praktik konstruksi masyarakat.