Kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker, dan ?85% kasus
merupakan tipe non-small cell lung cancer (NSCLC). Pada pasien NSCLC stadium
lanjut lokal, kemoradioterapi definitif menjadi terapi standar, namun respons terapi
antar pasien masih menunjukkan variasi yang cukup besar. Radiomik berbasis citra
[18F]-FDG PET berpotensi menjadi biomarker prediktif non invasif untuk
memprediksi respons kemoradioterapi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
mengembangkan alur proses radiomik terintegrasi berbasis citra [18F]-FDG PET
untuk meningkatkan stabilitas fitur serta performa model prediksi respons
kemoradioterapi pada pasien NSCLC stadium lanjut lokal. Tujuan penelitian ini di
antaranya optimasi prapemrosesan (metode interpolasi dan harmonisasi ComBat),
evaluasi metode seleksi fitur, dan analisis tiga VOI berbasis intensitas metabolik
yaitu whole tumor, medium SUV, dan high SUV untuk memperoleh model prediksi
respons terapi yang lebih akurat, dan memiliki kemampuan generalisasi yang
optimal.
Penelitian ini menggunakan 167 pasien NSCLC stadium lanjut lokal dari dataset
multisenter ACRIN 6668/RTOG 0235 yang diperoleh dari The Cancer Imaging
Archive. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap utama. Tahap pertama mengevaluasi
pengaruh variasi pemindai PET multisenter (Siemens, GE, dan Philips) terhadap
variabilitas fitur radiomik serta efektivitas kombinasi metode interpolasi (Bspline,
Gaussian, dan Nearest Neighbor) dan harmonisasi ComBat. Variabilitas fitur
dianalisis menggunakan coefficient of variation (CV) dan uji Kruskal–Wallis
sebelum dan sesudah harmonisasi ComBat. Tahap kedua membandingkan empat
metode seleksi fitur yaitu Random Forest Feature Importance (RF-FI), Recursive
Feature Elimination berbasis Random Forest (RFE-RF), Least Absolute Shrinkage
and Selection Operator (LASSO), dan Minimum Redundancy Maximum Relevance
(mRMR), untuk mengidentifikasi fitur radiomik yang paling relevan dalam
memprediksi respons kemoradioterapi. Tahap ketiga mengevaluasi pengaruh
variasi volume of interest (VOI), yang terdiri dari whole tumor, medium SUV, dan
high SUV, terhadap performa model prediksi respons kemoradioterapi. Model
dikembangkan menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM), Logistic
Regression (LR), Random Forest (RF), dan XGBoost, kemudian dievaluasi melalui
stratified k-fold cross-validation pada training dataset dan independent testing
dataset menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, F1-score, dan area under the
curve (AUC). Hasil penelitian ini menunjukkan interpolasi Nearest Neighbor menghasilkan
stabilitas fitur terbaik dibandingkan Gaussian dan Bspline, dengan median
coefficient of variation (CV) terendah sebelum harmonisasi (12,6%). Setelah
harmonisasi ComBat, median CV menurun menjadi 3,6%, sedangkan jumlah fitur
yang stabil antar pemindai (CV < 10%) meningkat dari 48 menjadi 95 dari total 105
fitur, dan hanya 0,95% fitur yang masih menunjukkan perbedaan signifikan antar
pemindai berdasarkan uji Kruskal–Wallis. Dengan demikian, pada penelitian ini
interpolasi Nearest Neighbor menghasilkan variabilitas antar pemindai yang paling
rendah serta stabilitas fitur radiomik yang paling tinggi dibandingkan Gaussian dan
Bspline, baik sebelum maupun sesudah harmonisasi ComBat.
Evaluasi seleksi fitur, metode RF-FI dan RFE-RF menunjukkan performa yang
lebih baik dibandingkan LASSO dan mRMR. Pada evaluasi cross-validation,
kombinasi RF-FI dengan RF menghasilkan performa terbaik (AUC 0,691 ± 0,105),
adapun kombinasi RFE-RF dengan XGBoost menunjukkan performa yang
kompetitif (AUC 0,686 ± 0,048). Pada independent testing dataset, RF-FI dengan
SVM mencapai performa terbaik (akurasi = 0,738; AUC = 0,683), sementara RFE-
RF dengan LR menunjukkan performa yang kompetitif (akurasi = 0,714; AUC =
0,675). Hasil penelitian ini menunjukkan metode seleksi fitur berbasis tree-based
learning lebih efektif dalam memilih fitur radiomik yang relevan dan robust untuk
prediksi respons kemoradioterapi pada pasien NSCLC stadium lanjut lokal.
Evaluasi variasi VOI menunjukkan subregion medium SUV menghasilkan performa
terbaik dibandingkan whole tumor dan high SUV. Pada evaluasi cross-validation,
kombinasi medium SUV dengan SVM menghasilkan akurasi 0,773 ± 0,069,
F1-score 0,779 ± 0,064, dan AUC 0,840 ± 0,069. Kombinasi dengan RF juga
kompetitif dengan akurasi 0,750 ± 0,155, F1-score 0,750 ± 0,166, dan AUC 0,849
± 0,108. Adapun evaluasi testing dataset, medium SUV dengan SVM menghasilkan
performa tertinggi dengan akurasi 0,810, F1-score 0,852, dan AUC 0,765.
Sedangkan kombinasi dengan XGBoost menghasilkan performa kompetitif dengan
akurasi 0,714, F1-score 0,750, dan AUC 0,769. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa eksplorasi heterogenitas metabolik melalui subregion medium SUV
menghasilkan fitur radiomik yang paling informatif dan relevan terhadap prediksi
respons kemoradioterapi dibandingkan pendekatan whole tumor maupun high SUV
pada dataset penelitian ini
Dengan demikian, Interpolasi Nearest Neighbor yang dikombinasikan dengan
harmonisasi ComBat dan seleksi fitur berbasis tree-based learning efektif
meningkatkan stabilitas fitur radiomik dan performa model prediksi respons
kemoradioterapi pada NSCLC stadium lanjut lokal. Subregion medium SUV
merupakan area metabolik paling informatif yang memberikan performa prediksi,
sensitivitas terhadap kelas partial response, dan kemampuan diskriminatif terbaik
dibandingkan whole tumor maupun high SUV, sehingga berpotensi menjadi
biomarker pencitraan non-invasif untuk mendukung pengambilan keputusan terapi
yang lebih personal.
Perpustakaan Digital ITB