digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengelolaan persediaan untuk produk yang mengalami deteriorasi menjadi semakin kompleks ketika pelaku usaha menghadapi permintaan yang bersifat tidak pasti (probabilistik), kebijakan penundaan pembayaran dari pemasok, serta kendala anggaran. Dalam praktik bisnis ritel dan distribusi, keputusan persediaan masih sering didasarkan pada pendekatan heuristik, yang berpotensi menyebabkan tingginya biaya persediaan, terjadinya kekurangan stok, serta inefisiensi finansial. Sejalan dengan karakteristik permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem pengendalian persediaan probabilistik bagi produk deteriorasi dalam satu kerangka pengambilan keputusan yang terintegrasi. Model yang diusulkan diformulasikan dalam kerangka optimasi dengan tujuan meminimalkan total biaya persediaan per unit waktu, yang mencakup biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya deteriorasi, biaya kekurangan persediaan, biaya simpan finansial, serta bunga yang diperoleh dengan tetap mempertimbangkan penentuan ukuran lot pemesanan optimal, cadangan pengaman, dan titik pemesanan ulang secara simultan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan pada satu pelaku usaha ritel dan distribusi, meliputi wawancara serta data sekunder berupa data historis permintaan dan parameter operasional yang digunakan sebagai input numerik dalam analisis model pada kedua skenario pembayaran. Penelitian ini mempertimbangkan dua skenario pembayaran, yaitu ketika periode pembayaran terjadi sebelum persediaan habis (M ? T) dan ketika periode pembayaran melebihi panjang siklus persediaan (M ? T). Pada skenario M ? T, diperoleh ukuran lot pemesanan optimal sebesar 448 unit, dengan cadangan pengaman sebesar 23 unit dan titik pemesanan ulang sebesar 38 unit. Sementara itu pada skenario M ? T total biaya persediaan menjadi lebih minimum dengan rekomendasi ukuran lot pemesanan optimal sebesar 483 unit, serta cadangan pengaman dan titik pemesanan ulang yang sama. Dibandingkan dengan kebijakan persediaan eksisting, model yang diusulkan mampu menurunkan total biaya persediaan sebesar 12,47% pada skenario M ? T dan 14,75% pada skenario M ? T. Temuan penelitian menegaskan pentingnya integrasi antara keputusan operasional persediaan dan kebijakan pembayaran kepada pemasok dalam meningkatkan efisiensi sistem persediaan, sekaligus menghasilkan kebijakan yang optimal secara matematis dan aplikatif secara bisnis