Industri Hospitality di Bali mengalami pertumbuhan yang signifikan pasca Covid
19, dengan jumlah kedatangan wisatawan domestik maupun manca negara yang
telah melampaui level sebelum pandemi pada tahun 2024. Pertumbuhan ini
menciptakan peluang besar bagi perusahaan manajemen hotel seperti Mahaprana
Experience, sebuah operator non-branded yang mengelola Hotel di Bali. Namun,
saat ini perusahaan hanya menerapkan satu struktur management fee flat rate di
seluruh portofolio propertinya, berupa persentase tetap dari gross revenue tanpa
memperhatikan ukuran, lokasi, maupun kinerja properti. Pendekatan yang uniform
ini menciptakan konflik kepentingan antara operator dan pemilik properti, sebuah
masalah yang telah dijelaskan secara mendalam dalam Agency Theory, di mana
insentif operator untuk memaksimalkan revenue tidak selalu sejalan dengan
prioritas pemilik untuk memaksimalkan profit bersih. Kesenjangan ini menjadi
semakin mendesak karena Mahaprana Experience menerima semakin banyak
permintaan dari guesthouse kecil dan villa tunggal yang karakteristik finansialnya
sangat berbeda dari properti resort besar yang dikelolanya, sehingga menimbulkan
pertanyaan apakah satu struktur fee dapat tetap adil dan layak secara finansial di
seluruh portofolio yang beragam tersebut.
Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan mengajukan pertanyaan
bagaimana struktur management fee hotel dapat diformulasikan ulang agar
merefleksikan perbedaan karakteristik properti, lokasi, dan permintaan pasar,
serta bagaimana komponen insentif berbasis kinerja dapat dirancang untuk
menyelaraskan kepentingan operator dan pemilik. Penelitian ini berasumsi bahwa
kinerja finansial dan struktur biaya bervariasi secara sistematis antar zona
geografis di Bali akibat perbedaan ekonomi regional dan banyaknya kegiatan
pariwisata regional yang mendasarinya, dan bahwa variasi ini, setelah diukur
secara objektif, dapat menjadi dasar bagi model fee bertingkat yang lebih dapat
diterima oleh para pemangku kepentingan dibanding praktik flat rate yang berlaku
saat ini.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan desain mixed
method sequential explanatory, menggabungkan tahap analisis kuantitatif dengan
tahap validasi kualitatif. Tahap kuantitatif dimulai dengan mengklasifikasikan
sembilan kabupaten dan kota di Bali menjadi tiga zona ekonomi menggunakan data
Produk Domestik Regional Bruto sektor akomodasi, menerapkan regresi log-log
untuk mengidentifikasi variabel penjelas paling signifikan, normalisasi Min-Max
untuk menyamakan skala, hierarchical clustering untuk mengelompokkan
kabupaten berdasarkan composite score, dan uji Kruskal-Wallis untuk memastikan
bahwa zona yang terbentuk berbeda secara signifikan. Data Summary Operating
Statement historis dari sembilan properti selama sepuluh kuartal, dengan format
sesuai Uniform System of Accounts for the Lodging Industry, kemudian dianalisis
menggunakan regresi linear untuk memisahkan komponen fixed cost dan variable
cost pada setiap kategori biaya per zona, menghasilkan benchmark untuk Average
Daily Rate, Occupancy, Cost Ratio, Gross Operating Profit Margin, dan Return on
Investment pemilik. Benchmark ini menjadi dasar bagi model prediksi tiga langkah
dan struktur management fee bertingkat, di mana base fee merefleksikan rate aktual
yang teramati pada mayoritas properti dan incentive fee rate meningkat secara
progresif seiring pencapaian Gross Operating Profit Margin. Tahap kualitatif
kemudian memvalidasi model yang diusulkan ini melalui Focus Group Discussion
yang melibatkan pemilik properti dan perwakilan operator, dengan transkrip
dianalisis menggunakan prosedur thematic analysis enam fase yang dikembangkan
oleh Braun and Clarke, menghasilkan tema terkait kesadaran atas struktur fee yang
berlaku, persepsi ketidakadilan antar skala properti, penerimaan terhadap konsep
stacked fee, dan kesepakatan atas mekanisme dual trigger incentive yang
menggabungkan indikator kinerja finansial dan non-finansial.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja finansial berbeda secara material
dan konsisten di ketiga zona, dengan Return on Investment pemilik berkisar dari
sekitar lima belas hingga lima puluh delapan persen, dan bahwa variasi ini
terutama didorong oleh perbedaan cost ratio, bukan hanya oleh revenue.
Penerapan model fee bertingkat yang dihasilkan pada data portofolio historis
menghasilkan total management fee agregat yang lebih sesuai dibanding skema flat
rate yang berlaku sebelumnya, sekaligus meningkatkan Return on Investment
pemilik, membuktikan bahwa struktur baru ini menguntungkan pemilik tanpa
mengurangi kelayakan pendapatan operator secara keseluruhan. Temuan Focus
Group Discussion selanjutnya mengonfirmasi bahwa pemilik properti dan operator
menerima base fee bertingkat serta dual trigger incentive fee sebagai alternatif
yang lebih adil dibanding flat rate, dengan syarat base fee tetap menjamin
pendapatan minimum yang layak bagi operator di seluruh skala properti.
Penelitian ini memberikan kontribusi bagi manajemen hospitality dengan
menunjukkan metode yang dapat direplikasi dan berbasis data untuk merancang
struktur management fee yang sesuai, dengan mengintegrasikan clustering
ekonomi regional, regresi cost behavior yang berlandaskan sesuai dengan standar
akutansi hotel yang diakui secara internasional, serta desain insentif yang
tervalidasi oleh pemangku kepentingan. Bagi praktisi, penelitian ini menyediakan
alat bantu pengambilan keputusan yang konkret, yaitu kalkulator prediksi cost dan
management fee, yang dapat digunakan oleh operator hotel non-branded untuk
mengevaluasi properti prospektif dan menegosiasikan struktur fee yang
transparan, terkait langsung dengan kinerja, dan saling menguntungkan bagi
operator maupun pemilik, sehingga menawarkan jalan praktis menuju hotel
management agreement yang lebih berkelanjutan di pasar pariwisata Bali.
Perpustakaan Digital ITB