Perbankan tidak hanya dituntut mengelola risiko iklimnya sendiri, tetapi juga mengalihkan aliran modal dari aktivitas berkarbon tinggi. Di Indonesia, tuntutan tersebut diformalkan melalui POJK 51/2017 yang mewajibkan bank mengungkapkan tata kelola, strategi, dan manajemen risiko terkait iklim. Namun, investigasi independen organisasi masyarakat sipil mengidentifikasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, bank terbesar di Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki negara, sebagai pemodal batu bara terbesar di Indonesia, dan belum ada studi tingkat bank yang menguji secara sistematis kesesuaian antara pengungkapan iklimnya dan realitas pembiayaannya. Studi ini menunjukkan bahwa sepanjang 2020 hingga 2024 pengungkapan iklim Bank Mandiri berkembang pada keempat pilar TCFD, sementara posisi substantifnya terhadap batu bara tidak berubah dan eksposurnya justru meningkat. Dengan analisis isi kualitatif atas sepuluh laporan publik, yaitu Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan 2020 sampai 2024, yang dikodekan menggunakan kerangka TCFD, studi ini menemukan bahwa tata kelola bertambah dengan komite, ESG Group khusus, dan kapabilitas stress testing, tetapi batu bara tidak pernah menjadi objek pengawasan tersendiri. Satu-satunya komitmen batu bara bertanggal, yaitu penghentian pada 2040, hanya muncul dalam satu Laporan Tahunan, tidak pernah dimuat dalam Laporan Keberlanjutan, dan hilang pada tahun berikutnya. Target net zero unggulannya hanya mencakup emisi operasional, sehingga emisi terbiayai tempat batu bara berada tidak tersentuh. Batu bara disaring tetapi tidak pernah dikecualikan, angka pembiayaan khusus batu bara tidak pernah diungkapkan, dan pangsa sektor pertambangan dalam portofolio kredit, proksi terdekat yang tersedia, naik dari 5,03 menjadi 8,97 persen. Ketidakselarasan tersebut bersifat sistematis dan material, dan berdasarkan bukti yang tersedia paling masuk akal dibaca sebagai potensi greenwashing sektor keuangan yang ditopang oleh decoupling institusional serta struktur kepemilikan negara yang mengikat bank pada prioritas batu bara nasional. Analisis dokumen dapat menetapkan polanya, tetapi tidak dapat menetapkan niat. Tiga aliran solusi diusulkan untuk menutup kesenjangan dari sisi pelaporan: integritas pengungkapan, tata kelola portofolio, dan kredibilitas target.
Perpustakaan Digital ITB