digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Muhammad Rasha Emir Rafferty [19022256]
Terbatas  Abdul Aziz Ariarasa
» Gedung UPT Perpustakaan

Meningkatnya ketergantungan pada ekspatriat dalam bisnis global telah mendorong perhatian akademik terhadap bagaimana individu menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan kehidupan di luar negeri. Meskipun memiliki peran strategis, ekspatriat sering menghadapi tantangan terkait tuntutan pekerjaan, interaksi antarbudaya, dan kondisi kehidupan sehari-hari yang dapat memengaruhi kinerja dan kesejahteraan mereka. Penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada ekspatriat Barat, menggunakan pendekatan kuantitatif, serta jarang menerapkan kerangka terintegrasi yang mencakup faktor pekerjaan dan non-pekerjaan. Perhatian terhadap ekspatriat Indonesia di konteks Eropa seperti Belanda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana job demands dan job resources membentuk penyesuaian kerja, interaksi, dan penyesuaian umum ekspatriat Indonesia di Belanda. Dengan menggunakan model Job Demands–Resources (JD-R) dan teori penyesuaian ekspatriat, penelitian terapan ini menerapkan kerangka teoritis yang telah mapan untuk menganalisis permasalahan penyesuaian di dunia nyata. Desain kualitatif digunakan untuk menggali pengalaman hidup secara mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh ekspatriat Indonesia yang tinggal dan bekerja di Belanda dengan latar belakang pekerjaan dan status hukum yang beragam. Analisis dilakukan menggunakan thematic analysis berdasarkan enam tahap Braun dan Clarke, dengan model JD-R sebagai lensa analitis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspatriat menghadapi tuntutan pekerjaan yang signifikan, seperti ekspektasi kinerja tinggi, ambiguitas peran, dan kebutuhan belajar mandiri secara cepat. Tuntutan ini memerlukan upaya kognitif dan emosional yang berkelanjutan, terutama pada tahap awal pekerjaan. Namun, keberadaan sumber daya seperti atasan yang suportif, kerja tim yang kolaboratif, dan kesempatan pengembangan keterampilan berperan sebagai faktor penyangga yang membantu proses adaptasi. Penyesuaian interaksi dipengaruhi oleh hambatan bahasa dan perbedaan gaya komunikasi, khususnya antara budaya tidak langsung Indonesia dan gaya langsung Belanda. Paparan berulang membantu proses adaptasi bertahap. Dukungan jaringan sesama warga negara menjadi sumber daya sosial penting yang mengurangi rasa isolasi. Penyesuaian umum menjadi dimensi paling menantang secara struktural, terutama terkait perumahan, administrasi perbankan, dan sistem kesehatan. Secara keseluruhan, penyesuaian ekspatriat merupakan proses dinamis yang dipengaruhi tuntutan organisasi, sumber daya yang tersedia, norma antarbudaya, dan kondisi struktural negara tujuan. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dan implikasi praktis bagi organisasi dan pembuat kebijakan.