digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 SK PP Final Project Neva Vanessa Young_19223033
Terbatas  Jufrizal Effendi, S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Ekonomi digital Indonesia sebagian besar didorong oleh perusahaan rintisan teknologi tahap awal yang diperkirakan menghasilkan nilai transaksi bruto sebesar 90 miliar dolar AS pada tahun 2024. Kegagalan tata kelola di eFishery dan TaniHub mengungkap adanya kesenjangan: para pendiri memprioritaskan pendapatan dan pertumbuhan, namun perusahaan modal ventura membutuhkan standar tata kelola, pengendalian internal, dan transparansi keuangan sebelum melakukan investasi. Para pendiri sering kali memandang tata kelola formal sebagai beban administratif, bukan sebagai prioritas. Penelitian ini mengkaji persepsi, penerapan, dan prioritas tata kelola perusahaan oleh para pendiri usaha yang mendanai sendiri dan yang mendapat pendanaan eksternal di Indonesia, dengan menggunakan Peta Kematangan AMVESINDO- SVCA (2025). Metode yang digunakan bersifat kualitatif dan interpretatif: wawancara semi-terstruktur dengan tujuh pendiri dari pusat-pusat digital utama di Indonesia, yang terbagi antara usaha yang mendanai sendiri dan yang mendapat pendanaan eksternal. Data dikodekan secara tematis dalam NVivo ke dalam empat dimensi; kesadaran tata kelola, kerangka kerja pengendalian, pemantauan bisnis, dan kesiapan etis. Kesiapan tata kelola bergantung pada tahap perkembangan. Pendiri yang mendanai sendiri (bootstrapped) menunda penerapan sistem formal, sambil mempertahankan kelincahan melalui pengambilan keputusan terpusat dan pengendalian informal. Startup yang telah mendapat pendanaan cenderung mengembangkan struktur yang lebih formal, seperti pembagian peran, pemisahan keuangan, dan pelaporan sistematis, namun hal ini seringkali dilakukan sebagai respons terhadap tekanan investor, bukan melalui perencanaan internal. Secara keseluruhan, kami melihat kesiapan yang bersifat reaktif, yang menimbulkan gesekan pasca- investasi, proses penggalangan dana yang lebih lambat, dan risiko agensi yang lebih tinggi selama fase penskalaan. Studi ini merekomendasikan agar: para pendiri menerapkan tata kelola dasar (kontrol persetujuan ganda, pemisahan keuangan, batasan wewenang yang jelas) sebelum menggalang dana; perusahaan modal ventura mendukung tata kelola pasca-investasi melalui kepatuhan bertahap dan bimbingan, bukan sekadar penyaringan satu kali; dan inkubator menambahkan modul tata kelola ke dalam kurikulum kewirausahaan.