digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bisnis KPR umumnya dianggap terkendala oleh proses yang lambat dan prosedur yang rumit. Studi ini menemukan kendala yang lebih mendasar: decision latency, yaitu jeda antara minat awal nasabah dan komitmen yang sesungguhnya. Di Bank Rakyat Indonesia (BRI), jeda ini terlihat dari jarak antara target Service Level Agreement (SLA) 3–5 hari dan waktu proses aktual yang dapat mencapai 11–16 hari. Selama masa tunggu tersebut, ketidakpastian mengenai kelayakan finansial dan rendahnya keyakinan dalam memilih properti menimbulkan keraguan, melemahkan keterikatan, dan menurunkan konversi, sehingga sebagian besar potensi permintaan tidak berujung pada pencairan kredit. Studi ini berlandaskan pada teori transformasi digital perbankan, inovasi teknologi properti, customer journey mapping, Technology Acceptance Model (TAM), dan kerangka kualitas layanan SERVQUAL. Teori-teori tersebut disintesiskan ke dalam kerangka konseptual kognitif–emosional terintegrasi KNOW–FEEL–DECIDE, di mana kejelasan finansial (KNOW), keyakinan emosional (FEEL), dan integrasi sistem yang mulus (DECIDE) bersama-sama memperpendek jarak antara niat dan tindakan. Value Proposition Canvas kemudian memetakan pains dan gains nasabah ke fitur solusi yang diusulkan, sehingga setiap konstruk teoretis terhubung secara eksplisit dengan desain platform dan pertumbuhan bisnis. Penelitian ini menggunakan desain Sequential Explanatory Mixed Methods. Pada fase kualitatif dilakukan wawancara mendalam dengan 10 responden yang terdiri atas pegawai BRI, pengembang perumahan, dan nasabah; pengumpulan data dilanjutkan hingga saturasi tematik tercapai, ditandai dengan tidak munculnya tema baru pada wawancara terakhir. Temuan kualitatif kemudian dioperasionalisasikan menjadi konstruk terukur dan hipotesis formal yang diuji secara kuantitatif menggunakan TAM dan SERVQUAL, sehingga solusi yang diusulkan tetap berpijak pada pengalaman nyata pengguna sekaligus tervalidasi secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Usefulness (PU) berpengaruh paling kuat terhadap Behavioural Intention (BI), yang menandakan bahwa kejelasan keputusan merupakan pendorong utama tindakan nasabah; Perceived Ease of Use (PEOU) memperkuat PU secara signifikan, sementara persepsi kualitas layanan membentuk Customer Satisfaction (CS) secara signifikan, yang pada gilirannya berpengaruh langsung terhadap BI. Temuan ini melandasi Homespot Flash Service yang mengintegrasikan pra-persetujuan kredit berbasis AI, visualisasi properti melalui Virtual Reality (VR), dan integrasi sistem end-to end. Dengan memangkas waktu proses Consumer Loan Factory (CLF) dari 11–16 hari menjadi SLA 3–5 hari, atau percepatan tiga hingga empat kali, solusi ini menopang kenaikan konversi konservatif sekitar 5%, yang dengan asumsi Net Interest Margin (NIM) sekitar 3,5% menghasilkan Net Present Value (NPV) positif, Benefit–Cost Ratio (BCR) tinggi, dan periode pengembalian yang singkat. Studi ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan KPR tidak hanya bergantung pada permintaan pasar atau suku bunga, tetapi juga pada kemampuan bank membantu nasabah memutuskan lebih cepat dan lebih yakin; memangkas decision latency mengubah permintaan terpendam menjadi pencairan kredit. Direkomendasikan agar BRI mengimplementasikan Homespot Flash Service melalui piloting bertahap pada kelompok pemangku kepentingan kecil terlebih dahulu sebelum perluasan yang lebih besar, memperdalam pemanfaatan AI di luar pra-persetujuan, serta, sebagai penelitian lanjutan, melakukan eksperimen terkontrol yang membandingkan pengguna dan non-pengguna platform untuk menguji perbedaan waktu keputusan dan konversi secara statistik.