digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA_SITI HADIYATI
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

Pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dapat di budidaya secara hidroponik dengan sistem sumbu (wick system). Budidaya pakcoy secara hidroponik membutuhkan larutan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Larutan nutrisi yang paling umum digunakan yaitu AB Mix. Namun AB mix dapat berakibat toksik dan menimbulkan residu kimia, jika digunakan dalam jangka panjang. Alternatif pengganti nutrisi AB Mix yaitu penggunaan pupuk organik cair dan pupuk emulsi ikan. Penggunaan pupuk organik berpotensi menggantikan peran AB Mix dalam sistem hidroponik, khususnya dalam penyediaan nitrogen dan peningkatan kadar klorofil tanaman pakcoy. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh penggunaan masing-masing larutan nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair (POC), dan pupuk emulsi ikan terhadap kandungan klorofil dan nitrogen tanaman pakcoy pada hidroponik wick system. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni – Agustus 2025 di Screenhouse Laboratorium Teknik 1A ITB Kampus Jatinangor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan tiga perlakuan yaitu P1 = Larutan AB Mix (27 mL larutan A + 27 mL larutan B), P2 = POC NASA (23 mL), dan P3 = Pupuk emulsi ikan (16 mL). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian didapat, kandungan nitrogen maupun kandungan klorofil pada perlakuan AB Mix memiliki hasil yang paling tinggi dibandingkan dua perlakuan yang lain. Perlakuan AB Mix menghasilkan 7,02% untuk total nitrogen dan 4,79 mg/L untuk total klorofil. Sementara itu, perlakuan POC NASA menghasilkan nilai nitrogen 1,82% dan total klorofil 2,49 mg/L, sedangkan pupuk emulsi ikan menghasilkan nitrogen 2,39% dan klorofil 2,45 mg/L. Penggunaan AB Mix pada sistem hidroponik wick memberikan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan penggunaan pupuk organik cair, baik POC NASA maupun emulsi ikan terhadap kadar nitrogen total tanaman pakcoy. Begitu juga dengan kandungan klorofil, penggunaan AB Mix secara signifikan menghasilkan kandungan klorofil yang lebih tinggi pada daun pakcoy. Ketersediaan hara merupakan faktor penentu utama dalam keberhasilan sistem budidaya hidroponik. Nitrogen pada AB Mix tersedia dalam bentuk anorganik yang langsung diserap akar, sehingga lebih efisien dalam membentuk asam amino, protein, dan klorofil. Sedangkan, pupuk organik cair membutuhkan proses mineralisasi, sehingga ketersediaan haranya lebih lambat, tidak seragam, dan lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa penggunaan pupuk organik belum mampu menyaingi penggunaan AB Mix, meskipun lebih ramah lingkungan pupuk organik masih menghasilkan total nitrogen dan kadar klorofil yang lebih rendah.