digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengukuran kewajiban imbalan pascakerja sesuai PSAK 219 dipengaruhi oleh asumsi aktuaria dan tingkat diskonto yang digunakan. Umumnya menggunakan pendekatan Single Decrement (SD) dan satu tingkat diskonto untuk seluruh peserta, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan berbagai kemungkinan penyebab keluar peserta sebelum usia pensiun normal maupun perbedaan karakteristik sisa masa kerja peserta. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel Multiple Decrement (MD) dari tabel SD, menentukan tingkat diskonto berdasarkan segmentasi Masa Kerja Yang Akan Datang (MKYAD) menggunakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan oleh IBPA, serta menganalisis pengaruhnya terhadap nilai Current Service Cost (CSC) dan Present Value of Defined Benefit Obligation (PVDBO) menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Tabel MD disusun menggunakan asumsi Uniform Distribution of Decrements (UDD) dengan mempertimbangkan empat penyebab decrement, yaitu meninggal dunia, cacat, mengundurkan diri, dan pensiun normal. Tingkat diskonto ditentukan berdasarkan nilai Average Remaining Working Lifetime (ARWL) pada setiap kelompok MKYAD dan mengacu pada kurva imbal hasil IBPA, dengan interpolasi linear untuk tenor yang tidak tersedia. Asumsi yang digunakan meliputi mortalitas TMI IV 2019, tingkat cacat sebesar 1% dari mortalitas, tingkat pengunduran diri berdasarkan kelompok usia, usia pensiun normal 57 tahun, dan tingkat kenaikan gaji sebesar 5% per tahun. Hasil penelitian sesuai tanggal valuasi 2 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kelompok MKYAD jangka pendek, menengah, dan panjang memiliki ARWL masing-masing sebesar 5,81 tahun, 14,71 tahun, dan 27,35 tahun dengan tingkat diskonto 5,7343%, 6,7312%, dan 6,8733%. Penggunaan model MD menghasilkan nilai kewajiban yang lebih rendah dibandingkan model SD. Model MD menghasilkan total CSC sebesar Rp 3.811.103.682 dan PVDBO sebesar Rp 44.187.464.043, atau lebih rendah masing-masing sebesar 25,90% dan 37,98% dibandingkan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model MD dan tingkat diskonto berbasis segmentasi MKYAD menghasilkan pengukuran kewajiban imbalan pascakerja yang lebih mencerminkan karakteristik peserta.