digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 SK PP Final Project_Aulia Rahman_19223045
Terbatas  Jufrizal Effendi, S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Dengan penetrasi internet mencapai 79,5 persen pada 2024, Indonesia membangun ekonomi digital yang tumbuh pesat, terlihat dari unduhan aplikasi AI yang meningkat dari 7,6 juta pada 2022 menjadi 131 juta pada 2025. Namun startup AI tetap kurang mendapat pendanaan, karena sebagian besar modal ventura masih mengalir ke sektor berisiko rendah seperti fintech dan e-commerce. Penelitian ini menganalisis bagaimana founder mengatasi keterbatasan infrastruktur, talenta, dan biaya untuk membangun startup AI di Indonesia, serta menilai kesiapan ekosistem dalam mendukung pertumbuhan tersebut, melalui wawancara dengan investor modal ventura, founder, dan pakar industri. Hasil penelitian menunjukkan ekosistem AI Indonesia masih kekurangan infrastruktur GPU dan large language model lokal, sehingga startup hanya beroperasi di level aplikasi dan menghadapi risiko nilai tukar akibat membayar layanan cloud dalam dolar AS. Investor modal ventura menerapkan metrik software-as-a-service yang tidak sesuai dengan model biaya AI, sehingga banyak yang menghindari pendanaan ke perusahaan AI. Founder merespons melalui Ecosystem Bootstrapping: tim yang ramping, penghematan biaya lewat AI, dan akuisisi alih-alih IPO, hingga infrastruktur dan metrik investasi menyesuaikan.