digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ambisi Indonesia untuk bertransformasi menjadi perekonomian industri maju yang digerakkan oleh inovasi serta mencapai status negara berpendapatan tinggi pada peringatan satu abad kemerdekaan tahun 2045 (yang dikenal sebagai visi Indonesia Emas) menuntut pergeseran fundamental dari ekstraksi sumber daya menuju penciptaan nilai berbasis kapabilitas. Meskipun terdapat pertumbuhan yang terukur dalam keluaran riset, registrasi paten, dan aktivitas inovasi di lingkungan perguruan tinggi maupun lembaga riset publik, kontribusi ekonomi dari inovasi-inovasi tersebut masih sangat kecil secara tidak proporsional dibandingkan potensinya. Sebagian besar kekayaan intelektual (KI) yang dihasilkan secara nasional masih belum termanfaatkan, belum cukup terkomersialisasi, atau terputus dari tujuan strategis transformasi industri. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural antara kapabilitas teknologi dan valorisasi ekonominya. Permasalahan utama yang diangkat dalam tesis ini adalah belum tersedianya kerangka valuasi terintegrasi dan berorientasi pasar yang mampu menerjemahkan keluaran riset, paten, dan inovasi teknologi menjadi aset strategis yang layak diinvestasikan dalam agenda transformasi industri Indonesia. Sistem penilaian inovasi yang ada saat ini masih didominasi oleh evaluasi Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL/TKT), sementara perhatian terhadap skalabilitas manufaktur, kesiapan komersial, posisi dalam ekosistem industri, dan efek pengganda makroekonomi masih kurang memadai. Akibatnya, banyak teknologi yang menjanjikan terjebak dalam "Lembah Kematian" (Valley of Death) antara tahap validasi laboratorium dan implementasi industri, dan tidak mampu menarik investasi strategis. Untuk menjawab kesenjangan struktural tersebut, tesis ini mengusulkan sebuah Market-Oriented Innovation Valuation Framework (Kerangka Valuasi Inovasi Berorientasi Pasar) baru yang mengintegrasikan: (1) Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL/TKT); (2) Tingkat Kesiapan Manufaktur (MRL); (3) Tingkat Kesiapan Komersial (CRL); (4) analisis paten dan kekayaan intelektual; (5) pemetaan Pohon Industri berbasis Kode HS; (6) analisis perdagangan global dan nilai tambah; (7) pemodelan pengganda Input–Output; serta (8) metodologi valuasi investasi yang disesuaikan dengan risiko. Kerangka ini memperkenalkan arsitektur valuasi inovasi komposit yang mampu menilai teknologi tidak hanya berdasarkan kematangan teknis, tetapi juga dari dimensi relevansi industri, peluang pasar, kelayakan manufaktur, dan potensi dampak ekonomi nasional. Kebaruan konseptual utama terletak pada integrasi Industrial Tree Analysis (Analisis Pohon Industri) dengan Intellectual Property Valuation (Valuasi Kekayaan Intelektual). Melalui pemetaan industri berbasis Kode HS, penelitian ini secara sistematis menghubungkan komoditas hulu, industri antara, dan produk hilir dalam sektor-sektor strategis, termasuk mineral kritis, sistem energi, industri pangan, teknologi kesehatan, dan manufaktur tingkat lanjut. Kerangka ini lebih lanjut mengembangkan mekanisme valuasi kuantitatif melalui model Risk-Adjusted Net Present Value (rNPV) yang diadaptasi untuk investasi teknologi mendalam (deep-technology) dan industri strategis. Kerangka yang diusulkan dirancang untuk menjadi fondasi sistem pendukung keputusan investasi Danantara, sehingga memungkinkan alokasi modal berbasis bukti menuju inovasi-inovasi yang memiliki nilai strategis nasional yang terukur.