digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Gregorius Sidharta Soegijo merupakan salah satu tokoh perupa seni patung yang penting dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia. Karya-karyanya menghiasi berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Fukuoka. Ia dikenang dalam sejarah seni rupa modern Indonesia sebagai pendobrak kekakuan penggunaan material dan teknik dari konvensi seni patung modern. Karya-karya patungnya pada dekade 1950 – 1970 mempertanyakan ulang identitas dan watak seni rupa modern Indonesia, sebagai budaya baru yang sedang mencari jalannya di tengah perselisihan paham kebudayaan. Pengalaman hidup dan perjalanan karir G. Sidharta turut membentuk dan mengukuhkan visi sang maestro terhadap seni rupa Indonesia, khususnya terhadap media seni patung. Tujuan dari penelitian ini adalah untu mengetahui perjalanan hidup dan karier G. Sidharta, serta kencederungan artistik dalam karya-karya patungnya pada dekade 1950 – 1970, demi memahami posisi G. Siharta di tengah medan seni rupa Indonesia pada periode waktu tersebut. Demi mencapai tujuan penelitian tersebut, peneliti menggunakan teori ikonografi Panofsky, sebagai metode pembacaan karya, dan teori perkembangan kecenderungan artistik Louis W. Flaccus, sebagai teori pendukung, untuk menganalisis sampel-sampel karya patung. Peneliti terlebih dahulu mengelompokkan sampel karya yang dibahas berdasarkan tahun pembuatan, yaitu karya patung pada dekade 1950, dekade 1960, dan dekade 1970. Di samping itu, peneiti uga melakukan observasi lapangan, wawancara, kaji pustaka, serta pendalaman arsip berupa kliping sebagai metode pengumpulan data, khususnya untuk mendukung dan memperkaya penulisan bab III dan bab IV. G. Sidharta melalui beragam lingkungan dengan ideologi dan/atau budaya yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Dalam bidang seni rupa, ia berinteraksi, mengalami, dan memahami seni rupa dari beragam sudut pandang, seperti seni rupa modern menurut kacamata Barat, seni rupa modern menurut seniman Indonesia, dan seni rupa tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat kesukuan. Perjalanan G. Sidharta memasuki beragam lingkungan tersebut, serta menyerap pemahaman dan nilai dari lingkungan yang dilalui, menimbulkan konflik batin di antara nilai-nilai yang bertentangan. Sepanjang hidupnya, G. Sidharta berupaya menciptakan harmoni yang mengatasi ketegangan dari berbagai nilai dan paham, yang saling bertemu dan bertentangan, dalam dirinya. Upaya tersebut menuntun G. Sidharta pada pencarian terhadap kepribadian nasional atau keindonesiaan yang berdasar pada jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat suku Jawa, penganut agama Katolik, warga negara Indonesia, seniman, dan manusia. Tindakan di atas merupakan cara G. Sidharta dalam menyikapi perkembangan zaman. Sikap G. Sidharta, yang sudah dijabarkan di atas, tercermin pada karya-karya patungnya. Ia, dengan konsisten, melakukan eksplorasi dan eksperimentasi terhadap berbagai aspek dalam menciptakan karya, seperti material yang digunakan, gagasan yang dipersoalkan, serta teknik penciptaan yang dilakukan. Ketekunan G. Sidharta dalam mencari kebaruan mendorong karya-karyanya melampaui norma atau konvensi seni patung, khususnya pada dekade 1970. Kecenderungan artistik dalam karya-karya patung G. Sidharta pada dekade 1950 – 1970 bersifat dinamis dan progresif. Peralihan yang ia lalui memengaruhi perkembangan dan pergeseran pada aspek-aspek karya patungnya, seperti material, metode penciptaan karya, serta tema. G. Sidharta memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebagai sumber inspirasi karya, menjadikan karya-karya patungnya selalu relevan pada masanya.