digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak Inggris
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Pajanan respirable particulate matter (RPM) mengandung logam berat berpotensi menimbulkan dampak kesehatan pada anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi logam berat dalam fraksi RPM serta menilai risiko kesehatan lingkungan pada siswa Sekolah Dasar A (SD-A) dan swasta (SD-B) di Jakarta Timur. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan personal air sampling pump dengan cyclone yang merepresentasikan fraksi RPM, analisis unsur menggunakan ED-XRF, serta penentuan massa partikulat melalui metode gravimetri terkoreksi. Terdapat 14 jenis logam dalam RPM yang teridentifikasi dalam penelitian ini, yaitu Al, Si, S, K, Ca, Ti, V, Cr, Mn, Fe, Cu, Zn, As, dan Pb, dengan proporsi komposisi serupa di kedua sekolah dan Ca sebagai kontributor terbesar. Rata-rata total pajanan logam per anak lebih tinggi di SD-A (8,9×10-3 mg/m3 ) dibandingkan SD-B (3,8×10- 3 mg/m3 ), dengan konsentrasi setiap logam konsisten lebih tinggi pada SD-A. Risiko kesehatan dievaluasi menggunakan Hazard Quotient (HQ) dan Excess Cancer Risk (ECR). Hasil menunjukkan bahwa unsur dengan HQ aman (Si, Al, S, Ti, Ca, K, dan Fe) terutama berasal dari emisi lalu lintas, debu jalan, dan aktivitas konstruksi yang merepresentasikan sumber latar perkotaan dan unsur kerak bumi sehingga diperlakukan sebagai kontribusi unsur latar. Sebaliknya, unsur dengan HQ tidak aman (Pb, Cr, As, Mn, Cu, Zn, dan V) menunjukkan keterkaitan kuat dengan aktivitas industri lokal, khususnya di sekitar SD-A, sehingga diidentifikasi sebagai pencemar utama yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kesehatan. Seluruh risiko karsinogenik berada dalam batas aman (ECR ?10??). Hasil pengukuran spirometry menemukan gangguan restriktif dominan pada SD-A, dengan gangguan obstruktif hanya terdapat pada SD-B. Berdasarkan analisis korelasi, pada SD-A peningkatan CDInk (Chronic daily intake non-karsinogenik) total lebih sering berkaitan dengan kecenderungan gangguan restriktif, sedangkan pada SD-B lebih sering berkaitan dengan gangguan obstruktif. Pada SD-A, jarak tempuh yang lebih pendek cenderung muncul pada kategori restriktif, sementara pada SD-B jarak tempuh yang lebih jauh lebih sering berkaitan dengan kategori restriktif. Korelasi antara Cpajanan dan faktor meteorologis juga bervariasi, dengan pola yang lebih jelas pada SD-A.