Indonesia merupakan wilayah dengan karakteristik aerosol yang kompleks akibat interaksi antara kondisi meteorologi, aktivitas antropogenik, dan fenomena kebakaran vegetasi dan lahan. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi aerosol jangka panjang di Indonesia berdasarkan data aerosol optical properties (AOP) AERONET pada sepuluh stasiun, yaitu Bandung (2009–2025); Jambi, Palangkaraya, dan Pontianak (2012–2025); Bukit Kototabang, Makassar, Palu, dan Sorong (2015–2025); serta Jakarta dan Kupang (2019–2025). Parameter yang dianalisis meliputi aerosol optical depth (AOD), Ångström exponent (AE), single scattering albedo (SSA), fine mode fraction (FMF), dan particle linear depolarization ratio (PLDR), yang dikaji variabilitasnya pada skala harian dan musiman, serta dikaji trennya pada skala bulanan dan tahunan. Komposisi tipe aerosol ditentukan menggunakan klasifikasi berbasis SSA dan PLDR pada 1020 nm. Hubungan antara AOP dan faktor prekursor aerosol, meliputi precipitable water vapor (PWV), temperatur, kecepatan angin, kelembapan relatif, fire radiative power (FRP), fire count (FC), dan NO? kolom dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan multiple linear regression (MLR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik AOP berbeda nyata antarstasiun. Efek musiman AOD dan FMF paling nyata terjadi di Jambi, Palangkaraya, dan Pontianak pada September–November berkaitan dengan tingginya frekuensi kebakaran vegetasi dan lahan. Secara umum AOD cenderung menurun (Kendall’s tau, ?<-0,03); kecuali di Bandung, Kupang, dan Palu cenderung meningkat (?>0,02). Kota metropolitan Bandung, Jakarta, dan Jambi menunjukkan dominasi aerosol berukuran kecil (AE>1,2). Bukit Kototabang, Jakarta, Jambi, Palangkaraya, Palu, dan Pontianak menunjukkan dominasi aerosol penghambur cahaya (SSA>0,94). PLDR tidak menunjukkan efek musiman yang nyata di seluruh stasiun (ANOVA p>0,05). Nilai background AOD (BAOD) terendah ditemukan di Palu, Bukit Kototabang, dan Sorong dengan estimasi BAOD Indonesia sebesar 0,02956. Komposisi aerosol didominasi aerosol polusi (dust ratio, Rd<0,17; SSA 0,85—0,95) sebesar 58-91%, sementara dust-dominated mixture (Rd 0,53—0,89) hanya ditemukan dalam proporsi kecil (0,2-6%) dan pure dust (Rd>0,89) tidak terdeteksi di Indonesia. Faktor prekursor aerosol dan AOP skala harian menunjukkan hubungan linear yang lemah (R2adj<0,5). Konsumsi BBM tahunan menunjukkan potensi linearitas dengan AOP yang dapat dianalisis lebih jauh dalam skala temporal lebih rinci (Pearson |r|>0,7 untuk AE). Rangkuman referensi karakteristik aerosol jangka panjang di Indonesia serta keterkaitannya dengan faktor lingkungan dapat mendukung pemantauan, interpretasi, dan validasi karakteristik aerosol di Indonesia pada masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB