Sungai Batang Timpeh merupakan salah satu sungai utama yang berada di Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, dan merupakan bagian penting dari sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Sungai ini memiliki panjang alur sekitar 57,62 km dengan luas DAS sekitar 236,36 km², serta berperan strategis dalam proses hidrologi regional dan mendukung berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, khususnya pada sektor perkebunan dan permukiman. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian banjir di sepanjang Sungai Batang Timpeh terjadi dengan frekuensi dan luasan genangan yang semakin meningkat, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi serta gangguan terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi ini mengindikasikan adanya penurunan kapasitas pengaliran sungai dan menunjukkan perlunya perencanaan pengendalian banjir yang komprehensif.
Banjir di Sungai Batang Timpeh dipengaruhi oleh kombinasi faktor hidrologi, hidraulika, dan morfologi sungai. Keterbatasan kapasitas alur sungai, perubahan tutupan lahan di wilayah DAS, serta dinamika proses transport sedimen berkontribusi terhadap perubahan morfologi sungai yang selanjutnya memengaruhi karakteristik aliran dan stabilitas alur. Upaya pengendalian banjir yang hanya berfokus pada peningkatan kapasitas hidraulika cenderung memberikan manfaat jangka pendek dan berpotensi menimbulkan permasalahan lanjutan apabila respon morfologi sungai tidak diperhitungkan secara memadai. Oleh karena itu, strategi pengendalian banjir perlu dikembangkan melalui pendekatan terpadu yang mempertimbangkan karakteristik hidrologi, kinerja hidraulika, fungsi konservasi air, serta dinamika morfologi sungai sebagai satu kesatuan sistem.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hidrologi, hidraulika, dan morfologi Sungai Batang Timpeh sebagai dasar dalam penyusunan alternatif pengendalian banjir yang berkelanjutan dan terpadu. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan data curah hujan selama 13 tahun yang diperoleh dari empat stasiun hujan yang tersebar di dalam dan sekitar DAS. Pemodelan hujan–aliran dilakukan menggunakan metode GR4J untuk menghasilkan debit harian, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan debit banjir rencana pada beberapa kala ulang, dengan penekanan pada debit banjir kala ulang 25 tahun (Q25). Selain itu, pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap debit puncak banjir dianalisis sebagai bagian dari pendekatan non-struktural untuk mengevaluasi sensitivitas respon banjir terhadap pengelolaan DAS.
Analisis hidraulika dan genangan banjir dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS melalui pemodelan aliran tidak tunak satu dimensi dan dua dimensi.
vi
Beberapa skenario penanganan dikembangkan dan dievaluasi, meliputi kondisi eksisting, normalisasi sungai, pembangunan dan peninggian tanggul, serta penerapan kolam retensi dengan sistem outlet gravitasi dan pompa. Setiap skenario dianalisis berdasarkan kemampuannya dalam menurunkan muka air banjir, mengurangi luas genangan, dan meningkatkan kapasitas pengaliran sungai pada kondisi debit banjir rencana Q25.
Kajian morfologi sungai dilakukan melalui pemodelan transport sedimen satu dimensi menggunakan persamaan Meyer–Peter Müller (MPM). Debit harian hasil pemodelan GR4J digunakan sebagai input simulasi transport sedimen untuk periode 2026–2035. Analisis difokuskan pada identifikasi kecenderungan perubahan elevasi dasar sungai akibat proses agradasi dan degradasi, serta implikasinya terhadap kapasitas alur sungai dan risiko banjir dalam jangka menengah hingga panjang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting Sungai Batang Timpeh belum mampu mengalirkan debit banjir rencana Q25 secara aman, sehingga menyebabkan limpasan dan genangan banjir di wilayah sekitar sungai. Normalisasi sungai dan pembangunan tanggul mampu mereduksi genangan secara signifikan, namun masih terdapat potensi limpasan pada beberapa segmen sungai akibat keterbatasan kapasitas lokal dan perbedaan elevasi puncak tanggul. Dari seluruh alternatif yang dikaji, penambahan kolam retensi dengan kapasitas tampungan efektif sekitar 441.223 m³ terbukti paling efektif dalam menurunkan debit puncak dan muka air banjir. Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, kolam retensi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana konservasi air untuk mendukung kebutuhan air perkebunan pada musim kemarau. Analisis morfologi menunjukkan kecenderungan agradasi yang dominan selama periode simulasi, yang berpotensi menurunkan kapasitas alur sungai secara bertahap apabila tidak disertai dengan pengelolaan sedimen yang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, pengendalian banjir Sungai Batang Timpeh direkomendasikan untuk dilaksanakan melalui kombinasi pendekatan struktural dan non-struktural secara terpadu dengan mempertimbangkan keterkaitan antara proses hidrologi, kinerja hidraulika, dan dinamika morfologi sungai. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengendalian banjir sekaligus menjamin keberlanjutan fungsi sungai dalam jangka panjang.
Perpustakaan Digital ITB