digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) sebagai pusat perekonomian nasional memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana banjir kompleks yang dipengaruhi oleh kombinasi kondisi morfologi dataran rendah, intensitas curah hujan tinggi di hulu (hinterland) maupun lokal, pasang surut air laut (rob), penurunan muka tanah (land subsidence), serta penyusutan kapasitas hidraulik sistem persepuluhan sungai utama. Pemerintah berupaya mitigasi dari arah pesisir melalui pembangunan tanggul laut terintegrasi (Giant Sea Wall / NCICD), namun efektivitas struktur pertahanan pesisir ini sangat bergantung pada perilaku aliran dan manajemen pembuangan debit sungai-sungai di wilayah daratan. Tesis ini bertujuan untuk menginvestigasi kronologi perilaku hidraulik sungai di DKI Jakarta berdasarkan analisis runtun waktu (1997–2025) terhadap data debit dan tinggi muka air (TMA) pada 27 Pos Duga Air, data curah hujan di hulu dan pesisir, data pasang surut, rekam jejak penanganan banjir tahun 2025 dari Sistem Tanggap Bencana (SITABA) dan Pantau Banjir, serta observasi lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa banjir di Jakarta terbagi atas tiga tipologi utama yang sering terinteraksi menjadi banjir kombinasi: (1) banjir pluvial akibat hujan lokal yang melebihi kapasitas drainase perkotaan (contoh kejadian Januari 2025 yang merendam 52 RT), (2) banjir fluvial akibat luapan kiriman debit hulu seperti pada Kali Ciliwung, Krukut, dan Pesanggrahan (puncak Siaga 1 Maret 2025 yang merendam 62 RT), dan (3) banjir rob akibat pasang laut ekstrem dan supermoon di wilayah pesisir utara (April, Juli, dan Desember 2025). Dalam konteks tanggul laut pesisir, tertahannya muara sungai oleh kenaikan muka air laut dan tanggul tanpa dukungan kapasitas sistem polder serta pompa pembuang berkapasitas besar akan memicu efek balik aliran (backwater effect), yang berpotensi memperparah genangan di dataran pesisir. Sebagai respons mitigasi, penelitian ini merumuskan ajuan solusi konseptual infrastruktur berbasis tipologi dan bukti lapangan, mencakup standardisasi serta revitalisasi drainase (U-Ditch minimal 400×600 mm), peninggian tanggul beton struktural (elevasi hingga 4.000 mm), perbaikan pintu air dan tanggul kritis, hingga perancangan kolam retensi serta instalasi rumah pompa stasioner berkapasitas tinggi (berpipa 12"–20") pada titik-titik cekungan rawan banjir. Intervensi terpadu dari hulu hingga hilir ini menjadi krusial agar keberadaan Giant Sea Wall dapat bekerja selaras dengan sistem hidrolika sungai daratan.