pada periode Desember–Januari–Februari (DJF). Kajian monsun umumnya menggunakan
pendekatan perubahan arah angin, sedangkan konsep terbaru dalam kerangka Intertropical
Convective Cell (ITCC) menunjukkan bahwa migrasi sel konvektif mengikuti wilayah
dengan akumulasi Moist Static Energy (MSE) tertinggi. Sebagian besar penelitian MSE
masih mengandalkan data reanalisis yang memiliki bias pada wilayah tropis, sementara
kajian propagasi MSE berbasis data radiosonde masih terbatas. Penelitian ini bertujuan
menganalisis propagasi spasial-temporal MSE selama onset monsun di Indonesia serta
mengidentifikasi stasiun radiosonde yang representatif sebagai stasiun referensi (ground
truth).
Penelitian menggunakan data radiosonde University of Wyoming periode 2019
2023 (skala pentad) yang telah melalui Quality Control (QC). Koridor utama
Moisture Transport (MT) diidentifikasi menggunakan ambang persentil ke-75.
Stasiun representatif dipilih dengan kriteria berada pada koridor MT dan arah
transport yang searah dengan arah domain MT menggunakan Indeks Stasiun
Representatif (ISR > 0,9), sedangkan propagasi MSE dianalisis menggunakan
diagram Hovmöller dan Complex Empirical Orthogonal Function (CEOF).
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13 stasiun representatif, 8 stasiun terpilih
sebagai stasiun referensi. Diagram Hovmöller menunjukkan propagasi bertahap
anomali MSE mengikuti jalur MT, sedangkan analisis CEOF menghasilkan
peningkatan fase spasial yang sistematis dari stasiun 96147 hingga 97980. Dengan
demikian hasil penelitian membuktikan bahwa data radiosonde mampu
merepresentasikan dinamika migrasi monsun dengan baik serta berpotensi menjadi
ground truth untuk mendukung pemantauan serta prediksi onset Monsun di
Indonesia berbasis indikator termodinamika MSE.
Perpustakaan Digital ITB