Indonesia, termasuk Kalimantan, memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi,
termasuk tumbuhan berkhasiat obat yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
adat. Salah satu tanaman endemik Kalimantan adalah Durio kutejensis yang, selain
dikenal sebagai penghasil buah, juga secara tradisional dimanfaatkan untuk
mengobati berbagai penyakit, salah satunya diabetes melitus.
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan
hiperglikemia akibat kekurangan sekresi insulin, kerja insulin yang tidak maksimal,
atau keduanya, dan dalam jangka panjang berisiko menimbulkan komplikasi
kardiovaskular dan neurologis. Prevalensinya terus meningkat, dari 588,7 juta
penderita secara global pada tahun 2024 dan diproyeksikan mencapai 852,5 juta
pada tahun 2050, sementara Indonesia sendiri berada di peringkat kelima dunia
dengan jumlah penderita diabetes terbanyak.
Meskipun berbagai obat antidiabetes telah tersedia, penggunaannya masih
berpotensi menimbulkan efek samping. Selain itu, diabetes melitus merupakan
penyakit multifaktorial yang memerlukan pendekatan terapi melalui berbagai
mekanisme kerja. Oleh karena itu, pengembangan kandidat antidiabetes berbasis
bahan alam menjadi penting karena mengandung beragam metabolit bioaktif yang
berpotensi memiliki mekanisme kerja multitarget, serta diharapkan menghasilkan
terapi dengan efek samping yang lebih rendah dan biaya yang lebih terjangkau
dibandingkan obat antidiabetik sintetik.
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan profil metabolit D. kutejensis
berdasarkan asal geografis, mengevaluasi potensi antidiabetes ekstrak daun dan
kulit batang D. kutejensis dari empat provinsi di Kalimantan melalui pendekatan in
vitro dan in vivo yang diintegrasikan dengan metabolomik untuk mengarakterisasi
profil metabolit ekstrak, mengidentifikasi metabolit yang berpotensi berkontribusi
terhadap aktivitas antidiabetes, serta mengevaluasi perubahan profil metabolit
serum pada model tikus diabetes. Aktivitas potensi antidiabetes diuji secara in vitro
melalui aktivitas penghambatan enzim ?-glukosidase dan dipeptidil peptidase IV
(DPP-IV) dan secara in vivo dengan uji antihiperglikemia melalui uji toleransi
maltosa oral dan antidiabetes melalui model tikus diabetes yang diinduksi
nikotinamida dan streptozotosin. Analisis metabolomik menggunakan ultra-highperformance
liquid chromatography-quadrupole Orbitrap high-resolution mass
spectrometry (UHPLC-Q-Orbitrap HRMS) yang dikombinasikan dengan analisis
kemometrik, yaitu principal component analysis (PCA), partial least squaresdiscriminant
analysis (PLS-DA), dan orthogonal partial least squaresdiscriminant
analysis (OPLS-DA), untuk memetakan variasi profil metabolit
berdasarkan asal geografis, mengidentifikasi metabolit yang berpotensi
berkontribusi terhadap aktivitas antidiabetes, serta mengevaluasi perubahan profil
metabolit serum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit batang merupakan bagian tumbuhan D.
kutejensis yang paling potensial sebagai antihiperglikemia secara in vitro. Ekstrak
kulit batang menunjukkan aktivitas penghambatan ?-glukosidase yang tinggi,
dengan ekstrak dari Kalimantan Tengah memiliki aktivitas terkuat (IC50 1,61
?g/mL), sedangkan ekstrak dari Kalimantan Barat memiliki aktivitas terlemah (IC50
15,10 ?g/mL). Seluruh ekstrak kulit batang menunjukkan aktivitas penghambatan
DPP-IV yang relatif lemah. Pada uji in vivo, ekstrak kulit batang dari Kalimantan
Timur menunjukkan aktivitas antihiperglikemia, sedangkan ekstrak kulit batang
dari Kalimantan Tengah dan Barat efektif dalam mengontrol kadar glukosa darah
pada tikus dengan kondisi diabetes melitus.
Sebanyak 44 putatif metabolit berhasil diidentifikasi meliputi berbagai kelompok
senyawa seperti kumarin, ester, asam lemak, flavonoid, furan, keton, lignan, asam
organik, senyawa fenolik, sterol, dan terpenoid. Analisis kemometrik menunjukkan
adanya variasi profil metabolit antar wilayah serta mengidentifikasi metabolit yang
berpotensi sebagai penghambat ?-glukosidase dan sebagai antidiabetes in vivo.
Sebanyak 12 metabolit yang berpotensi sebagai penghambat ?-glukosidase in vitro,
diantaranya adalah 3,4-asam dihidroksi benzoat, 3,4-dihidroksibenzaldehida, serta
senyawa lain yang tergolong dalam kelompok triterpenoid, alkohol gula, sterol, dan
senyawa fenolik. Sejumlah 15 metabolit berperan dalam aktivitas antidiabetes in
vivo di antaranya fraksidin, terpenoid/triterpenoid, triterpenoid glikosida, fitosterol,
asam lemak, gula alkohol, dan satu senyawa tidak diketahui.
Analisis metabolomik serum darah tikus menunjukkan bahwa profil metabolit
serum darah tikus mengalami perubahan pada sebelum induksi, setelah induksi
diabetes, dan setelah pemberian bahan uji. Metabolit serum menunjukkan
perubahan signifikan pada kondisi diabetes, yang ditandai dengan peningkatan
fenilalanin, asam 12S-hidroksieikosatetraenoat (12S-HETE), dan kreatin, serta
penurunan lisofosfatidilkolin (20:4/0:0) [LysoPC (20:4/0:0)] dan triptofan.
Metabolit tersebut berpotensi sebagai penanda metabolik pada kondisi diabetes
melitus.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa D. kutejensis memiliki
potensi sebagai sumber kandidat antidiabetes melalui mekanisme penghambatan
enzim dan modulasi metabolisme energi, lipid, dan inflamasi. Temuan ini
memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan terapi diabetes berbasis bahan
alam dengan pendekatan metabolomik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
mengisolasi dan menguji aktivitas senyawa aktif dari ekstrak kulit batang,
mengonfirmasi profil keamanannya melalui uji toksisitas, serta memvalidasi peran
biomarker serum yang teridentifikasi dalam patofisiologi diabetes melitus, sebagai
dasar pengembangan D. kutejensis menjadi obat tradisional Indonesia yang aman
dan efektif.
Perpustakaan Digital ITB