Talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) adalah jenis talas yang banyak dibudidayakan
di Indonesia dan kaya akan serat. Bagian bonggol talas, yang belum dimanfaatkan secara maksimal,
memiliki potensi sebagai bahan pangan. Sembelit, salah satu penyakit dengan prevalensi tinggi di
Indonesia, dapat menurunkan kualitas hidup seseorang serta menjadi faktor risiko berbagai
penyakit lainnya. Salah satu cara untuk mengatasi sembelit adalah dengan memelihara kelancaran
pencernaan melalui konsumsi serat. Penelitian ini memanfaatkan serat dari bonggol Talas Belitung
untuk membuat produk nutrasetikal "fiber drink" yang dapat memudahkan konsumsi dan
meningkatkan nilai jual talas Belitung. Produk ini dikembangkan sebagai agen laksatif, yang terbukti
melalui indeks pengembangan serat Talas Belitung sebesar 3.04 mL/g. Serat talas yang dikeringkan
kemudian diformulasikan dengan bahan lain dan diuji melalui pengujian hedonik hingga didapatkan
formula terbaik. Formula produk ini terdiri dari serbuk serat bonggol talas (7.5 g), xanthan gum
(0.45 g), serbuk buah naga (3.75 g), maltodekstrin (3 g), stevia (0.15 g), dan asam sitrat (0.15 g).
Proses dilanjutkan pada tahapan granulasi basah dengan menambahkan PVP sebanyak 1% sebagai
pengikat dan etanol sebagai cairan penggranulasi. Hasil evaluasi produk dengan laju alir 5.07 g/s,
kadar lembab 2.78%, indeks kompresibilitas 12.86%, rasio Haussner 1.15, waktu rekonstitusi 13.08
detik, pH 4.67, dan viskositas 642.67 cP menunjukkan bahwa produk memiliki karakteristik fisik
yang optimal untuk dikembangkannya menjadi produk nutrasetikal minuman serat instan yang
berkualitas.
Perpustakaan Digital ITB