Pembangkit listrik tenaga panas bumi mendukung dekarbonisasi sistem kelistrikan
karena memiliki intensitas emisi yang lebih rendah dibandingkan pembangkit
berbahan bakar fosil. Namun, pelepasan noncondensable gas (NCG), yang dapat
mencakup karbon dioksida (CO?), hidrogen sulfida (H?S), nitrogen (N?), metana
(CH?), hidrogen (H?), amonia (NH?), dan oksigen (O?), tetap menghasilkan emisi
langsung yang perlu diperhitungkan dalam pencapaian target NDC dan net zero
emission Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji emisi karbon dioksida
operasional PLTP Ulumbu, menentukan baseline emisi Sistem Flores,
menghitung potensi reduksi emisi dan kredit karbon, serta menilai kesiapan
pengembangan proyek karbon. Penelitian menggunakan data operasi PLTP
Ulumbu tahun 2023, produksi listrik dan uap, hasil pengukuran NCG tahun 2021
dan 2023, serta data pembangkitan Sistem Flores. Perhitungan mengacu pada
ACM0002 dan TOOL07 untuk menentukan project emission, baseline emission,
dan emission reduction. Hasil penelitian menunjukkan kandungan NCG sebesar
1,766–2,989% massa dengan fraksi CO? dalam gas kering sebesar 95,429–
95,841%. Emisi operasional mencapai 13.443,07 tCO?e dengan intensitas 244,63
kgCO?e/MWh. Baseline emisi mencapai 46.708,92 tCO?e sehingga menghasilkan
potensi reduksi emisi sebesar 33.265,85 tCO?e. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa PLTP Ulumbu tetap memberikan manfaat mitigasi emisi meskipun
melepaskan CO? melalui NCG. Penelitian merekomendasikan pengukuran NCG
secara periodik, rekonsiliasi data operasi dan produksi uap, serta penguatan sistem
monitoring, reporting, and verification untuk mendukung pengembangan kredit
karbon yang berintegritas.
Perpustakaan Digital ITB