Abstrak - Natania Cesylia Parhusip
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Eksploitasi minyak bumi yang intensif menghadapi kendala berupa penurunan
produksi pada sumur tua dan rendahnya efisiensi ekstraksi, dengan sekitar 60–70%
Original Oil in Place (OOIP) masih terperangkap dalam reservoir. Microbial
Enhanced Oil Recovery (MEOR) berbasis eksopolisakarida (EPS) merupakan salah
satu metode pemulihan tersier yang dapat meningkatkan efisiensi penyapuan
minyak secara ekonomis dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengisolasi, mengkarakterisasi, dan mengevaluasi potensi bakteri penghasil
eksopolisakarida (EPS) sebagai agen peningkat perolehan minyak bumi tersier
(MEOR). Isolasi bakteri dari sampel brine water menggunakan medium Stone Salt
Mineral Solution (SMSS)+2% crude oil steril + 0,5% yeast extract dan Bushnell-
Haas Mineral Salts (BHMS) + 2% sukrosa. Penapisan kuantitatif dilakukan
menggunakan metode presipitasi etanol untuk menentukan berat basah EPS, diikuti
dengan pengukuran kadar karbohidrat menggunakan metode fenol-asam sulfat.
Isolat unggul kemudian diuji melalui kurva produksi EPS, stabilitas viskositas pada
variasi suhu (37, 50, 80 °C), pH (2, 5, 7, 9, 12), salinitas (5, 10, 15, 20%),
karakterisasi gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR), serta
simulasi sand pack column. Penapisan kuantitatif dari 12 isolat hasil isolasi
menetapkan B3, H2, dan D1 sebagai tiga isolat unggul, masing-masing
menghasilkan berat basah EPS sebesar 1,3328 g, 1,2153 g, dan 1,1382 g serta kadar
karbohidrat sebesar 78,86 ?g/mL, 75,28 ?g/mL, dan 70,25 ?g/mL (composite
scoring analysis : 1,000; 0,922; dan 0,852). Kurva produksi menunjukkan bahwa
kepadatan sel maksimum isolat B3, H2, dan D1 dicapai pada jam ke-72 inkubasi,
masing-masing sebesar 4,66 × 10? CFU/mL; 5,01 × 10? CFU/mL; dan 5,49 × 10?
CFU/mL. Sementara itu, rendemen EPS tertinggi diperoleh pada inkubasi 96 jam,
yaitu 0,1591 g/mL pada B3, 0,1354 g/mL pada D1, dan 0,1293 g/mL pada H2. Laju
produksi EPS tertinggi diperoleh pada D1 sebesar 0,00534 g/mL/jam pada interval
60–72 jam, diikuti B3 sebesar 0,00392 g/mL/jam dan H2 sebesar 0,00311 g/mL/jam
pada interval 84–96 jam.Hasil uji stabilitas viskositas menunjukkan bahwa EPS B3
paling stabil pada suhu tinggi (80 °C, penurunan 15,39%), sementara EPS D1
unggul pada variasi pH 2–12 (penurunan 4,83–14,91%); EPS H2 cenderung paling
rentan dengan rerata penurunan viskositas tertinggi (13,81%), meskipun uji
Friedman menunjukkan performa ketiga isolat tidak berbeda signifikan secara
keseluruhan (p-value = 0,097). Analisis FTIR menunjukkan bahwa EPS D1 dan B3
merupakan polisakarida, dengan indikasi gugus hidroksil, ikatan glikosidik,
karboksilat, dan gugus anionik; sedangkan EPS H2 menunjukkan karakter
polisakarida dengan indikasi komponen protein/peptida berdasarkan pita amida I
dan amida II. Simulasi sand pack column menunjukkan supernatan EPS berhasil
meningkatkan perolehan minyak dibandingkan kontrol negatif (2,66%), dengan
%AOR tertinggi dicapai oleh B3 (24,19%), diikuti H2 (23,64%), dan D1 (21,88%).
Identifikasi gen 16S rRNA mengonfirmasi isolat D1 sebagai Bacillus licheniformis
strain HBUAS74028, H2 sebagai Bacillus haynesii strain NRRL B-41327, dan B3
sebagai Bacillus licheniformis strain DSM13 (Identity 100%, E-value 0,0). Secara
keseluruhan, EPS yang dihasilkan isolat B3 (Bacillus licheniformis strain DSM13)
terbukti sebagai kandidat terbaik yang sangat potensial untuk aplikasi MEOR.
Perpustakaan Digital ITB