digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Operasi hydraulic fracturing membutuhkan volume air tawar (fresh water) yang besar, sehingga pemanfaatan air terproduksi (produced water) menjadi solusi strategis untuk mencapai keberlanjutan sumber daya air. Namun, kandungan ion kompleks dalam produced water dapat memengaruhi kinerja fluida perekah dan stabilitas batuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi laju pengembangan volume lempung (clay swelling) menggunakan fluida perekah berbasis Hydroxypropyl Guar (HPG) dan Carboxymethyl Hydroxypropyl Guar (CMHPG) dengan modifikasi garam BaCl2 dan Na2SO4 pada berbagai kondisi salinitas NaCl. Hasil uji X-Ray Diffraction (XRD) mengonfirmasi bahwa sampel batuan memiliki kandungan total clay sebesar 54,76% yang didominasi oleh mineral smectite/montmorillonite reaktif (52,12%), yang melandasi tingginya nilai Free Swelling Index (FSI) kontrol sebesar 37,4% pada HPG dan 41% pada CMHPG dalam pelarut AquaDM. Pengujian FSI membuktikan bahwa kation divalen Ba2+ lebih efektif dibandingkan divalen anion SO4 2- dalam mengompresi diffuse double layer (DDL) pada salinitas rendah melalui pertukaran kation, sementara peningkatan konsentrasi NaCl hingga salinitas tinggi (15.000 ppm) bertindak sebagai pendorong utama atau menjadi faktor pengontrol dominan yang memicu gradien tekanan osmotik yang menarik keluar air dari interlayer lempung (dehidrasi osmotik), sehingga mereduksi nilai FSI hingga mencapai titik minimum 8,6% pada kombinasi HPG-BaCl2. Pada sistem CMHPG, kurva penurunan FSI mulai mencapai stabil (plateau) pada rentang konsentrasi 250 ppm hingga 500 ppm di bawah pengaruh NaCl 15.000 ppm akibat terjadinya kondisi jenuh pada penetralan muatan elektrostatik yang memperpendek panjang Debye dan memaksa lapisan interlayer lempung menipis hingga mencapai volume hidrasi minimum. Analisis reologi menunjukkan bahwa respons kedua polimer terhadap kondisi tersebut bergantung pada karakter ioniknya: pada polimer HPG yang non-ionik, ion Ba2+ berkoordinasi dengan gugus hidroksil rantai polimer melalui kompetisi antara kelasi intramolekul dan pembentukan jembatan antarmolekul, menghasilkan profil viskositas non-monoton yang tetap kompetitif hingga meningkat pada salinitas tinggi; sedangkan pada polimer CMHPG yang bersifat polielektrolit anionik, ion Ba2+ dan background salinity menetralisir muatan gugus karboksilat melalui penapisan muatan (charge screening), sehingga rantai polimer terkompresi membentuk koil yang rapat (compacted state), dan viskositas menurun secara tajam dan konsisten. Perbedaan mekanistik ini mengungkapkan konsekuensi tarik-ulur (trade-off) yang bersifat spesifik-polimer: kondisi salinitas tinggi dengan kehadiran Ba2+ yang paling efektif menekan pengembangan lempung justru merupakan kondisi di mana polimer HPG mempertahankan performa viskositas terbaiknya, menjadikan kombinasi HPG dengan air produksi bersalinitas sebagai pilihan yang optimal. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa polimer HPG nonionik lebih unggul dibandingkan CMHPG untuk aplikasi fluida perekah berbasis air produksi bersalinitas, dan bahwa pemanfaatan produced water sebagai air basis fluida perekah memerlukan pengaturan komposisi ionik yang tepat guna meminimalkan kerusakan formasi akibat clay swelling tanpa mengorbankan kemampuan viskositas fluida dalam membawa proppant.