INVESTIGASI ANALITIK DAN NUMERIK TERHADAP
TEGANGAN LELAH PADA DAERAH WELD TOE POROS
RONGGA MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
DALAM KONDISI STATIK DAN KONDISI OPERASI
TESIS
Karya tulis sebagai satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister dari
Institut Teknologi Bandung
Oleh
LEO WIJAYA
NIM : 23124059
Program Studi Magister Teknik Mesin
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Agustus 2026
i
ABSTRAK
INVESTIGASI ANALITIK DAN NUMERIK TERHADAP
TEGANGAN LELAH PADA DAERAH WELD TOE POROS
RONGGA MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
DALAM KONDISI STATIK DAN KONDISI OPERASI
Oleh
LEO WIJAYA
NIM : 23124059
(Program Studi Magister Teknik Mesin)
Penelitian ini membahas evaluasi kegagalan retak yang muncul pada poros
berongga agitator xanthator, khususnya pada daerah weld toe. Pada agitator
xanthatorterdapat 14 posisi sambungan las circumferential fillet dan keretakan
hanya terjadi pada posisi weld toe 6, 7, 8, dan 9 dari 12 unit agitator yang
beroperasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa tegangan yang terdapat pada
weld toe agitator menggunakan dua metode: (1) pendekatan analitik berbasis teori
balok Euler-Bernoulli dengan diagram benda bebas dan faktor konsentrasi
tegangan (SCF), serta (2) simulasi numerik menggunakan Abaqus dengan
pemodelan geometri 3D dengan pembebanan statis (gravitasi, sentrifugal, hambat
fluida, dan torsi motor).
Hasil analitik menunjukkan tegangan lentur global di daerah weld toe sebesar
10,60 MPa, yang setelah dikalikan dengan stress concentration factor (SCF) 1,21
menghasilkan tegangan puncak sebesar 12,95 MPa. Sedangkan, simulasi numerik
menunjukkan tegangan S11 di weld toe sebesar 16,22 MPa setelah ekstrapolasi
nilai tegangan sesuai dengan rekomendasi International Institute of Welding.
Perbedaan antara kedua metode disebabkan oleh asumsi SCF yang digunakan
pada pendekatan analitik yang menggunakan boundary fillet on stepped shaft,
sebagai konsekuensi dari tidak ada-nya nilai SCF untuk circumferential fillet weld.
Meskipun geometri pengelasan dimodelkan ideal (segitiga sama kaki), metode
numerik dinilai lebih representatif terhadap kondisi aktual.
Kedua metode baik analitik maupun numerik memberikan nilai tegangan weld toe
yang jauh di bawah endurance limit material Q345 (~99,9 MPa), sehingga
terjadinya retak setelah ~ 6 tahun operasi mengindikasikan adanya faktor dominan
lain yang berkontribusi, yaitu tegangan sisa akibat proses pengelasan multi-layer
multi-pass, geometri aktual pengelasan, dan interaksi aktual dengan fluida.
Penelitian ini menyimpulkan kegagalan fatigue bukan disebabkan oleh beban
operasi (gravitasi dan sentrifugal) dan SCF dengan geometri circumferential fillet
weld multi-pass multi-layer dapat didekati dengan nilai 1,50.
Perpustakaan Digital ITB