COVER Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 6 Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Aurelya Betha Sonia
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Wilayah pesisir yang menjadi lokasi infrastruktur pembangkit listrik skala besar dicirikan oleh
interaksi kompleks antara dinamika laut alami dan struktur rekayasa. Operasi pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara di wilayah pesisir menghasilkan
pembuangan panas secara kontinu melalui sistem air pendingin, sementara infrastruktur
pendukung seperti jetty memberikan batasan fisik terhadap sirkulasi perairan. Kombinasi
pengaruh tersebut berpotensi mengubah kondisi hidrodinamika lokal, memengaruhi distribusi
suhu dan salinitas, serta memodifikasi proses pencampuran di perairan sekitarnya. Oleh karena
itu, analisis yang komprehensif dan terintegrasi terhadap proses-proses tersebut menjadi
penting untuk mendukung pengelolaan operasi pembangkit listrik pesisir yang bertanggung
jawab secara lingkungan dan sosial.
PLTU Java 7 yang berlokasi di perairan pesisir Serang, Banten, Indonesia, memiliki peran
strategis dalam memasok energi listrik untuk Pulau Jawa. Pembangkit ini menggunakan air
laut sebagai media pendingin yang kemudian dibuang kembali ke lingkungan laut dengan suhu
yang lebih tinggi. Selain itu, struktur jetty dibangun untuk mendukung kegiatan transportasi
bahan bakar dan operasional pembangkit. Meskipun infrastruktur tersebut sangat penting bagi
operasional pembangkit, keberadaannya dapat memengaruhi pola arus serta penyebaran plume
suhu dan salinitas yang dihasilkan dari pembuangan air pendingin. Pemahaman terhadap
interaksi ini sangat krusial dalam mengevaluasi potensi dampak lingkungan dan sosial di
wilayah pesisir sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh struktur jetty dan pembuangan air pendingin
terhadap karakteristik hidrodinamika, suhu, dan salinitas di perairan pesisir sekitar PLTU Java
7 menggunakan pendekatan pemodelan numerik terintegrasi. Pemodelan hidrodinamika dua
dimensi dilakukan menggunakan MIKE 21 untuk mensimulasikan elevasi muka air, tinggi
gelombang signifikan, serta kecepatan arus horizontal rata-rata kedalaman. Model
dikembangkan, dikalibrasi, dan diverifikasi menggunakan data observasi yang tersedia untuk
memastikan bahwa hasil simulasi merepresentasikan kondisi hidrodinamika wilayah studi
secara realistis.
Untuk menangkap proses hidrodinamika multiskala secara memadai, diterapkan pendekatan
pemodelan bersarang (nested modeling). Model skala regional terlebih dahulu dibangun untuk
merepresentasikan dinamika pasang surut, gelombang, dan arus dalam skala besar. Hasil dari
model regional ini kemudian digunakan sebagai kondisi batas bagi model lokal dengan resolusi
lebih tinggi yang berfokus pada area sekitar pembangkit dan struktur jetty. Pendekatan ini
memungkinkan transfer gaya hidrodinamika regional ke dalam domain lokal secara konsisten,
di mana pengaruh struktur dan proses pembuangan panas menjadi lebih dominan.
Berdasarkan hasil pemodelan hidrodinamika dua dimensi bersarang, model tiga dimensi
dikembangkan menggunakan MIKE 3 untuk mensimulasikan distribusi suhu dan salinitas
akibat pembuangan air pendingin. Kerangka pemodelan tiga dimensi ini dirancang untuk
merepresentasikan stratifikasi vertikal, proses pencampuran, serta perilaku plume dalam kolom
air. Kalibrasi dan verifikasi model suhu dan salinitas dilakukan menggunakan data observasi
yang tersedia guna mengevaluasi keandalan model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur jetty secara signifikan memengaruhi kondisi
hidrodinamika lokal dengan mengubah arah dan kecepatan arus di sekitar area pembangkit.
Perubahan hidrodinamika ini berdampak pada jalur dispersi serta sebaran spasial plume suhu
dan salinitas. Simulasi tiga dimensi menunjukkan bahwa pembuangan panas dapat
menyebabkan stratifikasi lokal pada kondisi tertentu, sementara gaya hidrodinamika dan
pengaruh struktur mendorong proses pencampuran serta pemisahan plume di area lain.
Interaksi antara hidrodinamika, pembuangan panas, variasi salinitas, dan struktur jetty
memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku plume termal, yang berimplikasi pada
pengelolaan sistem pendingin dan mitigasi dampak lingkungan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemodelan terintegrasi menggunakan
MIKE 21 dan MIKE 3 merupakan kerangka yang andal untuk menganalisis proses
hidrodinamika dan termal yang saling berinteraksi di lingkungan pembangkit listrik pesisir.
Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung kajian dampak lingkungan dan sosial,
pengelolaan wilayah pesisir, serta operasi pembangkit listrik yang berkelanjutan, dan dapat
menjadi referensi bagi studi serupa di wilayah pesisir lainnya.
Perpustakaan Digital ITB