Permintaan dan kebutuhan sumber energi baru terbarukan (EBT) dari pembangkit listrik EBT meningkat
disebabkan perubahan iklim yang mengkhawatirkan serta permintaan listrik yang meningkat. PT. PLN
mengatasi permintaan ini dengan menerbitkan revisi baru Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
(RUPTL) serta anak perusahaan kontraktor PT. PLN NP untuk pembangunan pembangkit listrik EBT.
Konstruksi pembangkit listrik EBT dalam literatur pada umumnya menekankan pada teknologi,
metodologi penilaian risiko, serta faktor-faktor yang menyebabkan mode kegagalan dalam konstruksi
pembangkit listrik EBT. Studi ini menggunakan pendekatan Root Cause Analysis dengan Failure Mode
and Effects Analysis (FMEA) statis untuk menganalisis proyek konstruksi pembangkit listrik bertenaga
solar (PLTS) pada enam lokasi berbeda di beberapa pulau terpencil Indonesia. Hasil studi ini
menunjukkan faktor utama yang menyebabkan mode kegagalan adalah faktor manusia, terutama kendala
pada ketuntasan yang menyebabkan cakupan kerja kurang tepat dan friksi administratif yang
menyebabkan keterlambatan penerbitan sertifikasi. Studi ini juga menunjukkan pentingnya faktor
manusia dalam pencegahan serta mitigasi mode kegagalan, misalnya pada eliminasi biaya yang dapat
disebabkan oleh kerusakan komponen yang tidak terduga.
Kata Kunci: konstruksi PLTS; manajemen risiko proyek; energi terbarukan; Pembangkit Listrik Tenaga
Surya; manajemen konstruksi
Perpustakaan Digital ITB