digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nabiel Akbar Wicaksono
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

Gempa bumi Cianjur pada 21 November 2022 menyebabkan disintegrasi struktur tanah dan hilangnya sumber air bersih di sejumlah desa di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Kondisi ini mendorong identifikasi struktur bawah permukaan dan evaluasi potensi akuifer melalui metode geolistrik, termasuk keterbatasannya menjangkau ke- dalaman target. Penelitian dilakukan di lahan kosong sekitar Polsek Cugenang pada daerah Qot menggunakan empat data: Vertical Electrical Sounding (VES), Electrical Resistivity Tomography (ERT), Radio Magnetotelluric (RMT), dan Time Domain Ele- ctromagnetic (TDEM). Inversi VES menghasilkan model empat lapisan hingga keda- laman 31,8 m dengan resistivitas 25,4-247 ?m dan galat absolut 10,6%, sedangkan ha- sil data ERT menjangkau 28,5 m dengan resistivitas 12,1-848 ?m, galat absolut 20,6%. Keduanya konsisten menunjukkan peningkatan resistivitas terhadap kedalaman, dari tanah penutup dan tufa lapilian di bagian dangkal hingga breksi yang lebih padu di ba- gian dalam, meskipun perbedaan kuantitatif antarmodel tetap ada akibat galat inversi dan perbedaan pendekatan satu-dua dimensi. Data RMT dan TDEM digunakan seba- gai data pembanding untuk menjangkau kedalaman lebih besar. RMT menunjukkan dua zona resistivitas rendah pada kedalaman sekitar 10–20 m dan 60–90 m, sedangk- an TDEM menunjukkan zona konduktif (?<10 ?m) pada kedalaman lebih dari 40 m hingga sekitar 100 m. Zona 60–90 m tersebut sesuai dengan kedalaman sumur warga terdekat; kesesuaian ini paling kuat di ujung lintasan RMT terdekat sumur, melemah ke ujung lainnya mengindikasikan kondisi bawah permukaan yang lebih konduktif dan berpotensi berkaitan dengan fluida, namun belum dapat dipastikan sebagai akuifer tan- pa data pemboran.