digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak inggris
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Air tanah merupakan sumber air bersih utama bagi masyarakat Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang sebagian besar wilayahnya dimanfaatkan sebagai kawasan pertanian hortikultura intensif. Penggunaan pupuk nitrogen dalam jumlah tinggi serta praktik sanitasi yang didominasi oleh pembuangan tinja ke lubang tanah menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi pencemaran nitrat dan nitrit pada air tanah yang dikonsumsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis konsentrasi nitrat dan nitrit, memetakan persebaran spasialnya, menghitung indeks pencemaran, serta mengidentifikasi hotspot pencemaran pada air tanah di Desa Cikole. Pengambilan sampel dilakukan pada 30 titik sumur warga pada musim kemarau. Konsentrasi nitrat dianalisis menggunakan metode brucin-spektrofotometri dan nitrit menggunakan metode diazotasi-spektrofotometri. Persebaran spasial konsentrasi dipetakan dengan metode interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW) dalam Sistem Informasi Geografis, sedangkan tingkat pencemaran dinilai menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) terhadap dua skenario baku mutu, yaitu air minum & higiene-sanitasi (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023) dan air baku/sumber daya air (Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, Kelas I). Keterkaitan antara konsentrasi dengan variabel lingkungan dan sosial hasil wawancara dianalisis menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat berkisar antara 0,025 hingga 1,231 mg/L dan konsentrasi nitrit berkisar antara 0,001 hingga 0,091 mg/L. Seluruh nilai tersebut memenuhi baku mutu air minum & higiene-sanitasi; adapun terhadap baku mutu air baku/sumber daya air (PP No. 22 Tahun 2021, Kelas I),konsentrasi nitrit pada dua titik (Titik 3 dan Titik 5) melampaui baku mutu. Hasil perhitungan indeks pencemaran menunjukkan bahwa pada skenario air minum & higiene-sanitasi seluruh 30 titik (100%) berada pada kategori “Kondisi baik” (IP maksimum 0,2184), sedangkan pada skenario air baku/sumber daya air 29 titik (96,7%) tergolong “Kondisi baik” dan satu titik (Titik 5) tergolong “Cemar ringan” (IP maksimum 1,5150). Persebaran spasial hasil interpolasi IDW memperlihatkan pola yang tidak merata dengan nilai tertinggi yang bersifat setempat, di mana konsentrasi nitrat tertinggi dijumpai pada Titik 6 (RW 9). Uji korelasi menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat tidak berkorelasi signifikan dengan jarak terhadap lahan pertanian, jarak terhadap tangki septik, jarak terhadap aktivitas peternakan, maupun elevasi, dan konsentrasi nitrit juga tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan variabel lingkungan yang diuji. Rendahnya konsentrasi nitrat dan nitrit meskipun terdapat tekanan pencemaran nitrogen yang tinggi diduga disebabkan oleh kapasitas atenuasi alami lingkungan, antara lain aktivitas denitrifikasi pada tanah Andosol vulkanik yang kaya bahan organik, atenuasi pada zona tak jenuh, serta pengambilan sampel yang dilakukan pada musim kemarau ketika rendahnya curah hujan membatasi pelindian nitrogen menuju akuifer. Berdasarkan temuan tersebut, ketiga hipotesis penelitian secara umum tidak terdukung: seluruh titik memenuhi baku mutu air minum (nitrit pada dua titik, yaitu Titik 3 dan Titik 5, melampaui baku mutu air baku yang lebih ketat), tidak ditemukan korelasi spasial yang signifikan dengan intensitas pertanian, dan hanya satu titik (Titik 5) yang tergolong Cemar ringan pada skenario air baku. Kualitas air tanah Desa Cikole untuk parameter nitrat dan nitrit pada saat penelitian masih tergolong baik dan memenuhi baku mutu air minum, dengan satu titik yang perlu diperhatikan dari perspektif perlindungan sumber daya air. Namun demikian, mengingat tingginya beban nitrogen dari pemupukan dan sanitasi serta sifat akumulatifnya, pemantauan kualitas air tanah secara berkala tetap direkomendasikan, khususnya pada musim hujan ketika potensi pelindian nitrogen meningkat.