Setiap penentuan posisi menggunakan metode GPS memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat ketelitian, seperti panjang baseline pengamatan, problem penentuan ambiguitas fase secara on-the-fly, kelambatan akibat medium propagasi di atmosfer, cycle slip, serta bias residual lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian kualitas data pengamatan kinematik GPS pada suatu jaring yang telah ditentukan sehingga diperoleh nilai ketelitian data agar dapat memberikan gambaran kualitas data pengamatan.
Dari hasil pengolahan dengan menggunakan RTKLIB diperoleh gambaran ketelitian berupa nilai residu dan nilai variansi. Hasil simulasi pengamatan kinematik GPS menunjukkan bahwa semakin panjang baseline pengamatan maka semakin besar nilai residu dan nilai variansinya. Untuk panjang baseline 400 m nilai residu sebesar 1-2 cm dan nilai variansi berkisar diantara 0.01-0.02 cm2; untuk panjang baseline 7.1 km nilai residu berkisar diantara 0-13 cm dengan variansi sebesar 0.20-0.21 cm2; dan untuk panjang baseline 94.9 km nilai residu berkisar diantara 14-120 cm dan nilai variansi sebesar 0.47-0.97 cm2. Kemungkinan terjadinya perbedaan dengan nilai akibat ketidak-akuratan data pengamatan dengan nilai yang sebenarnya sebesar 0.5 cm.
Menurut hasil penelitian, pada panjang baseline yang relatif pendek (dibawah 10 km), penggunaan kombinasi model koreksi ionosfer Estimated Slant Total Electron Content dan koreksi troposfer Saastamoinen memberikan hasil yang terbaik. Sedangkan untuk baseline dengan panjang dibawah 100 km penggunaan model koreksi troposfer Zenith Total Delay memberikan hasil terbaik. Dengan mengetahui karakteristik kinematik GPS diharapkan deformasi lempeng bumi —baik di darat maupun di dasar laut, dapat diamati dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan penelitian terkait fenomena deformasi lempeng bumi yang akurat, murah dan cepat.
Perpustakaan Digital ITB