digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kualitas produk sangat penting bagi perusahaan manufaktur yang melayani industri dengan tingkat keselamatan tinggi, di mana margin kesalahan mendekati nol dan sebagian besar kegagalan berasal dari faktor manusia, bukan peralatan yang rusak. PT Mandiri Gifha Nusantara (MGN) adalah perusahaan rekayasa dan fabrikasi presisi tinggi di Batam yang melayani klien di sektor kelautan, minyak, dan gas. Meskipun memegang sertifikasi ISO 9001:2015, 14001:2015, dan 45001:2018 serta secara konsisten memenuhi target kualitasnya, hal itu dicapai dengan biaya yang terlampau tinggi karena para pemimpin tim belum sepenuhnya memahami prosedur dan target departemennya. Konsultan manajemen merekomendasikan pelatihan kepemimpinan situasional, namun belum diketahui apakah gaya kepemimpinan adaptif benar-benar meningkatkan kualitas produk, dan jika ya, apakah secara langsung atau dengan terlebih dahulu memperkuat kinerja karyawan. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Gaya Kepemimpinan Situasional dan Peningkatan Kualitas Produk di MGN, dengan Kinerja Karyawan sebagai variabel mediasi. Variabel diukur menggunakan Model Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard, dimensi kualitas Garvin, serta dimensi kinerja Bernardin dan Russell dengan skala Likert lima poin. Sensus dilakukan terhadap seluruh 49 karyawan non-manajerial di departemen Produksi dan Kualitas; setelah penyaringan z-score menghilangkan dua pencilan, tersisa 47 tanggapan. Instrumen memenuhi persyaratan validitas, reliabilitas, dan asumsi klasik. Analisis mediasi menggunakan makro Hayes PROCESS (Model 4) di SPSS 26 dengan 5.000 resampling bootstrap dan interval kepercayaan 95 persen. Gaya Kepemimpinan Situasional memiliki hubungan positif dan signifikan dengan Kinerja Karyawan (0,718, p = 0,000), dan Kinerja Karyawan dengan Peningkatan Kualitas Produk (0,497, p = 0,001). Efek tidak langsung hasil bootstrap sebesar 0,357, dengan interval kepercayaan dari 0,135 hingga 0,644 yang tidak mencakup nol, mengonfirmasi adanya mediasi. Namun, setelah mediator dimasukkan ke dalam model, efek langsung kepemimpinan terhadap kualitas produk menjadi 0,248 dan tidak lagi signifikan (p = 0,066), yang menunjukkan mediasi sepenuhnya. Dengan demikian, kepemimpinan situasional tidak meningkatkan kualitas produk secara langsung; pengaruhnya mengalir melalui karyawan yang melaksanakan pekerjaan. Tiga rekomendasi diberikan: menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan situasional yang terstruktur, menjadikan kinerja karyawan sebagai pendorong utama peningkatan kualitas, dan mengevaluasi program kepemimpinan berdasarkan apakah program tersebut secara terukur meningkatkan kinerja. Temuan ini dibatasi oleh konteks perusahaan tunggal, sampel sensus yang kecil, mediator tunggal, serta data cross-sectional yang dilaporkan sendiri. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan Situasional, Kinerja Karyawan, Peningkatan Kualitas Produk, Analisis Mediasi, Manufaktur, PT Mandiri Gifha Nusantara