Dengan berkembangannya penggunaan pembelajaran mesin dalam dinamika
fluida, model berbasiskan autoencoder telah menjadi metode populer untuk
mempelajari representasi dimensi rendah dari medan aliran berdimensi tinggi,
dimana meningkatkan rekonstruksi akurasi masih menjadi fokus utama dalam
riset bidang ini. Untuk hal tersebut, Fourier Neural Autoencoder telah dikembangkan,
yaitu sebuah arsitektur autoencoder yang ditingkatkan dengan layer
yang berbasiskan transformasi Fourier, terinspirasi dari Fourier Neural Operator
untuk meningkatkan akurasi rekonstruksi. Untuk lebih meningkatkan
kapabilatasnya, teknik hyperbolic feature mapping telah dikembangkan untuk
meningkatkan kualitas ekstraksi feature. Untuk meninjau kemampuan model
yang diajukan, varian variational dan non-variational dari model Fourier Neural
Autoencoder juga dikembangkan dalam penelitian ini. Karena Fourier
Neural Operator dan hyperbolic feature mapping dibuat independen terhadap
satu sama lain, maka dapat dibentuk empat varian model yang dibentuk:
Fourier Neural Autoencoder dengan dan tanpa hyperbolic feature mapping,
untuk bentuk variational dan non-variational. Aliran melalui silinder tunggal
dengan bilangan Reynolds 70 dijadikan sebagai kasus acuan untuk penelitian
ini. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwasanya model yang diajukan
memperoleh akurasi yang lebih tinggi dengan jumlah parameter yang lebih
sedikit dibandingkan dengan autoencoder konvolusional standar. Kemudian
model Fourier Neural Autoencoder dievaluasi dalam kasus aliran yang lebih
kompleks, meliputi aliran Reynolds Averaged Navier Stokes tak tunak melalui
airfoil NACA0012 pada bilangan Reynolds 1000 dan aliran melalui 2 silinder
berdampingan dengan bilangan Reynolds 100. Hasil-hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa model Fourier Neural Autoencoder beserta hyperbolic feature
mapping meningkatkan akurasi dan mengurangi jumlah parameter dibandingkan
dengan autoencoder standar.
Perpustakaan Digital ITB