digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Michael Satriya Budi Utama [17020050]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Karya tugas akhir ini merupakan lukisan triptik cat minyak berbentuk arch dengan predella, mengadaptasi kerangka ikonografis altar piece religius abad pertengahan—khususnya tradisi triptik Flemish seperti Garden of Earthly Delights karya Hieronymus Bosch—namun menggantikan muatan teologis-eskatologisnya dengan kritik sosial-ekonomi terhadap kehidupan duniawi. Alih-alih menggambarkan surga dan neraka sebagai konsep akhirat, karya ini memvisualisasikan keduanya sebagai kondisi yang terjadi di dunia, akibat struktur kekuasaan dan ketimpangan sosial-ekonomi. Gagasan penciptaan dilatarbelakangi keresahan penulis terhadap instrumentalisasi bahasa keagamaan untuk mengalihkan perhatian dari persoalan keadilan material, dipicu pernyataan pejabat publik soal profesi guru dan amal jariyah, serta refleksi personal penulis dalam kehidupan menggereja mengenai ironi iman dan perbuatan (Yakobus 2:14-26). Karya ini menjawab pertanyaan penciptaan—bagaimana ironi mendambakan surga akhirat namun abai mewujudkan keadilan di dunia dapat divisualisasikan lewat triptik altar religius yang dibalik muatannya—lewat tiga panel bergradasi naratif: panel kiri menggambarkan “surga sederhana” yang lepas dari kemewahan dan eksploitasi; panel tengah menggambarkan kota bertembok dengan parade otoritas religius-sekular yang disokong berbagai lapisan masyarakat; dan panel kanan menggambarkan “neraka duniawi” berupa wilayah pertambangan yang dieksploitasi, dengan gestur figur yang menciptakan siklus pembacaan berulang antara kedua panel tersebut. Predella menampilkan visual meja pemungutan pajak yang dikaburkan, dinaungi kutipan Doa Bapa Kami dalam bahasa Latin, “fiat voluntas tua sicut in caelo et in terra”, sebagai kunci pembacaan atas keseluruhan triptik. Sebagai penyeimbang, karya ini dilengkapi bingkai berornamen emas bergaya Gloria altar yang menempatkan unsur Ketuhanan sepenuhnya di luar kanvas—menegaskan bahwa karya ini tidak menyangkal eksistensi maupun kuasa Tuhan, melainkan menuntut usaha nyata manusia untuk mencapai-Nya. Landasan teori bertumpu pada filsafat seni Friedrich Nietzsche sebagaimana diuraikan Julian Young, khususnya oposisi life-affirming dan life-denying, konsep Apollonian sebagai tabir keindahan yang melandasi predella, serta kritik romantisisme sebagai “balas dendam” lewat “dunia lain” yang melandasi statement karya. Karya ini menawarkan refleksi kritis mengenai bahasa dan simbol keagamaan yang dapat dipakai, disalahgunakan, maupun dikembalikan pada fungsi jujurnya: mendorong keadilan di dunia, bukan sekadar penghiburan menuju janji akhirat.