digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK KAJIAN PERSEPSIONAL PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN: ANALISIS FAKTOR DOMINAN DAN STRATEGI MANAJERIAL PENINGKATAN KINERJA BUMD AIR MINUM KOTA SEMARANG Oleh Elda Nuriza NIM: 25725028 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Air minum merupakan kebutuhan dasar manusia, pilar kesehatan masyarakat, sekaligus prasyarat pembangunan kota berkelanjutan yang permintaannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Penyediaan air minum di Indonesia menjadi tanggung jawab Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Air Minum, namun BUMD menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga terkait tata kelola. Good Corporate Governance (GCG) diyakini sebagai solusi atas persoalan tata kelola tersebut. Namun, penerapan GCG masih terbatas pada kepatuhan administratif, tanpa internalisasi prinsip ke dalam aktivitas organisasi sehari-hari. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji GCG dan kinerja perusahaan secara terpisah, masih terbatas penelitian yang menguraikan pengaruh kelima prinsip GCG secara individual terhadap kinerja multidimensional sekaligus memetakan prioritas intervensi manajerial dalam satu kerangka analisis yang komprehensif pada BUMD Air Minum. Penelitian ini menguji pengaruh persepsi penerapan lima prinsip GCG, Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness, terhadap kinerja BUMD Air Minum yang diukur melalui persepsi berdasarkan standar Laporan Kinerja BUMD Air Minum: Keuangan, Pelayanan, Operasional, dan Sumber Daya Manusia. Metode analisis data menggunakan SEM-PLS untuk menguji pengaruh, dan Importance-Performance Map Analysis (IPMA) untuk memetakan prioritas intervensi berdasarkan kombinasi tingkat kepentingan dan capaian aktual tiap prinsip. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert 1–5 kepada 106 pegawai tetap PERUMDAM Tirta Moedal, diolah dengan SmartPLS 4. Hasil penelitian menemukan bahwa Accountability, Responsibility, dan Fairness berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan, sedangkan Transparency dan Independency tidak signifikan meski arahnya tetap positif. Analisis IPMA mengidentifikasi Accountability dan Responsibility sebagai prioritas utama perbaikan, importance tinggi namun performance rendah, dengan pelaporan kinerja ke Pemerintah Daerah, penanganan keluhan pelanggan, dan program CSR sebagai indikator berleverage perbaikan tertinggi. Fairness perlu dipertahankan pada level capaiannya saat ini,ii sementara Transparency dan Independency berisiko menyerap sumber daya manajerial melebihi urgensinya.