Konsentrasi PM2.5 di DKI Jakarta berfluktuasi tinggi dan dikendalikan oleh proses
meteorologi berskala jam seperti dispersi angin, washout hujan, dan siklus diurnal
lapisan batas atmosfer. Penelitian ini mengevaluasi enam skenario model prediksi
PM2.5 satu jam ke depan, yaitu arsitektur LSTM, CNN 1D, dan hybrid CNN1D-
LSTM tanpa dan dengan dekomposisi hybrid residual.
Data per jam periode 3 Februari hingga 25 Agustus 2025 mencakup PM2.5 dari
sensor IQAir, variabel meteorologi permukaan BMKG Soekarno Hatta yang
dikoreksi dengan profil angin logaritmik, serta curah hujan satelit GPM IMERG
Final Run. Model dilatih pada jendela masukan 24 jam dengan pembagian
kronologis dan dievaluasi menggunakan R2, MAE, RMSE, dan F1 score, dilengkapi
uji sensitivitas lead time dan parameter meteorologi, uji Diebold Mariano, serta
analisis galat masukan. Hasil menunjukkan dekomposisi meningkatkan kinerja
arsitektur tunggal secara signifikan, dan model LSTM dengan dekomposisi menjadi
model terbaik dengan R2 tertinggi sebesar 0,6102 dan RMSE terendah sebesar
10,3822 ?g/m3 sekaligus paling tahan terhadap galat masukan, sementara metrik
klasifikasi keenam model tidak berbeda signifikan.
Informasi meteorologi dimanfaatkan terutama melalui pola diurnal dan musiman,
sedangkan kontribusi langsung variabel sesaat pada horizon satu jam kecil karena
prediksi didominasi persistensi. Dengan demikian, model LSTM dengan
dekomposisi layak menjadi dasar sistem peringatan dini kualitas udara di Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB