Distribusi bahan bakar yang andal sangat dipengaruhi oleh ketepatan penetapan
minimum stock. Nilai yang terlalu rendah meningkatkan risiko stock-out,
sedangkan nilai yang terlalu tinggi menyebabkan inefisiensi kapasitas
penyimpanan dan modal kerja. Salah satu parameter utama dalam perhitungannya
adalah replenishment lead time. Jika lead time diukur secara tidak tepat, kebutuhan
stok yang dihasilkan dapat menjadi bias dan memengaruhi keputusan operasional
maupun investasi.
Penelitian ini mengevaluasi perubahan definisi lead time pada jaringan distribusi
bahan bakar multi-terminal. Sebelumnya, minimum stock dihitung berdasarkan
interval antar-kedatangan kargo, sedangkan definisi baru menggunakan interval
dari accepted loading date hingga accepted discharge date untuk lebih
merepresentasikan eksposur pasokan aktual. Penelitian bertujuan mengukur
dampaknya terhadap kebutuhan minimum stock, mengevaluasi kecukupan safe tank
capacity, serta mengidentifikasi implikasi operasional dan finansial.
Studi kasus evaluatif kuantitatif mencakup 15 terminal utama, lima produk, dan 56
kombinasi terminal-produk aktif. Minimum stock dihitung dari safety stock dan
cycle stock menggunakan kedua definisi lead time dengan demand, service level,
dan kapasitas yang dijaga tetap.
Hasil menunjukkan bahwa definisi lead time baru meningkatkan kebutuhan
minimum stock agregat sekitar seperdelapan. Kebutuhan meningkat terutama pada
produk berbasis impor dan aviasi, namun menurun pada beberapa produk dengan
pasokan lokal. Meskipun kapasitas aman secara agregat masih mencukupi,
beberapa terminal tetap mengalami defisit, sehingga kecukupan kapasitas perlu
dievaluasi pada tingkat terminal-produk, bukan hanya secara total. Jaringan juga
lebih sensitif terhadap perubahan lead time dibandingkan perubahan demand.
Temuan ini menunjukkan bahwa definisi lead time merupakan keputusan
perencanaan strategis yang memiliki dampak terukur terhadap persediaan,
kapasitas infrastruktur, modal kerja, dan prioritas investasi.
Perpustakaan Digital ITB