digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Distribusi bahan bakar yang andal sangat dipengaruhi oleh ketepatan penetapan minimum stock. Nilai yang terlalu rendah meningkatkan risiko stock-out, sedangkan nilai yang terlalu tinggi menyebabkan inefisiensi kapasitas penyimpanan dan modal kerja. Salah satu parameter utama dalam perhitungannya adalah replenishment lead time. Jika lead time diukur secara tidak tepat, kebutuhan stok yang dihasilkan dapat menjadi bias dan memengaruhi keputusan operasional maupun investasi. Penelitian ini mengevaluasi perubahan definisi lead time pada jaringan distribusi bahan bakar multi-terminal. Sebelumnya, minimum stock dihitung berdasarkan interval antar-kedatangan kargo, sedangkan definisi baru menggunakan interval dari accepted loading date hingga accepted discharge date untuk lebih merepresentasikan eksposur pasokan aktual. Penelitian bertujuan mengukur dampaknya terhadap kebutuhan minimum stock, mengevaluasi kecukupan safe tank capacity, serta mengidentifikasi implikasi operasional dan finansial. Studi kasus evaluatif kuantitatif mencakup 15 terminal utama, lima produk, dan 56 kombinasi terminal-produk aktif. Minimum stock dihitung dari safety stock dan cycle stock menggunakan kedua definisi lead time dengan demand, service level, dan kapasitas yang dijaga tetap. Hasil menunjukkan bahwa definisi lead time baru meningkatkan kebutuhan minimum stock agregat sekitar seperdelapan. Kebutuhan meningkat terutama pada produk berbasis impor dan aviasi, namun menurun pada beberapa produk dengan pasokan lokal. Meskipun kapasitas aman secara agregat masih mencukupi, beberapa terminal tetap mengalami defisit, sehingga kecukupan kapasitas perlu dievaluasi pada tingkat terminal-produk, bukan hanya secara total. Jaringan juga lebih sensitif terhadap perubahan lead time dibandingkan perubahan demand. Temuan ini menunjukkan bahwa definisi lead time merupakan keputusan perencanaan strategis yang memiliki dampak terukur terhadap persediaan, kapasitas infrastruktur, modal kerja, dan prioritas investasi.