digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Mumtaz Muzaffar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

GoTo Group, yang merupakan hasil merger tahun 2021 antara Gojek dan Tokopedia, adalah ekosistem digital terintegrasi terbesar di Indonesia dalam hal layanan on-demand, e-commerce, dan teknologi keuangan. Setelah IPO April 2022, GoTo harus bergulat dengan realita menjadi bisnis yang didukung modal ventura dengan pertumbuhan hiper, serta harus tumbuh secara menguntungkan tanpa valuasi besar di tengah persaingan yang meningkat. Studi ini menganalisis jalur GoTo menuju profitabilitas berdasarkan kinerja tahun 2021-2024 melalui tiga pertanyaan penelitian yang meliputi: (1) faktor apa saja yang dapat menjelaskan peningkatan Adjusted EBITDA selama dua tahun 2022-2024, (2) apakah peningkatan tersebut dapat dipertahankan dalam kondisi tekanan, dan (3) langkah-langkah praktis apa yang harus diprioritaskan untuk terus mewujudkan profitabilitas dalam kondisi pertumbuhan Core GTV. Studi ini mengadopsi desain penelitian deskriptif kuantitatif di mana data sekunder digunakan dan terdiri dari ketersediaan dokumen pemerintah dalam bentuk laporan keuangan yang diaudit, laporan tahunan serta presentasi investor. Model keuangan Excel gabungan dibuat untuk memodelkan lintasan kinerja, melakukan analisis rasio dan tren, menguraikan pendorong EBITDA yang disesuaikan menggunakan analisis waterfall dan uji sensitivitas. Hasil menunjukkan bahwa GoTo telah mewujudkan pembalikan profitabilitas yang signifikan selama tahun 2022-2024. EBITDA yang disesuaikan tumbuh sebesar Rp 16,34 triliun, meningkatkan angka negatif Rp 16,01 triliun pada tahun fiskal 2022 menjadi Rp 0,33 triliun pada tahun fiskal 2024, karena tiga pengungkit penguatan yang disesuaikan adalah peningkatan monetisasi dengan rasio take rate bersih yang meningkat menjadi 2,95/1,85 pada rasio take rate bersih, rasionalisasi subsidi dengan promosi yang menurun menjadi 0,53/2,97 pada rasio take rate bersih, dan efisiensi biaya tetap yang mendasari biaya operasional. Namun, keberlanjutan profitabilitas berada dalam rentang yang sempit. Analisis skenario menunjukkan bahwa kombinasi promosi yang merugikan sebesar +10% dan tingkat penerimaan bersih sebesar -2% akan menyebabkan EBITDA yang disesuaikan mencapai titik impas. Studi ini menetapkan batasan profitabilitas: intensitas promosi tidak boleh melebihi 0,59% dari Core GTV, tingkat penerimaan bersih tidak boleh lebih rendah dari 2,84%, dan biaya operasional tetap tidak boleh kurang dari 46,91% dari pendapatan bersih. Konversi kas: masih sangat penting, karena pada tahun fiskal 2024, arus kas operasional diukur sebesar Rp -0,62 triliun. Makalah ini menyarankan manajemen untuk mengoperasionalkan zona operasi yang aman secara profitabilitas berdasarkan dasar tahun fiskal 2024 dengan mempertimbangkan empat prioritas, termasuk mengintegrasikan tata kelola berbasis pengaman ke dalam perencanaan promosi, mengamankan monetisasi menggunakan layanan bernilai tambah, memperkuat keunggulan biaya struktural, dan menargetkan konversi kas sebagai tujuan yang sama dengan EBITDA yang disesuaikan.