digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun sistemik dengan manifestasi klinis heterogen yang memerlukan strategi treat-to-target. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas, dan efek samping berbagai regimen terapi pada pasien SLE di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien SLE periode 2023 - 2025 yang menjalani terapi selama enam bulan. Efektivitas dinilai melalui pencapaian remisi klinis dan lengkap berdasarkan kriteria DORIS, Lupus Low Disease Activity State (LLDAS), kondisi on-target, serta perubahan proteinuria (Urine Protein Creatinine Ratio/UPCR). Hasil menunjukkan dari 280 pasien SLE yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 99 pasien usia <18 tahun dan 181 pasien >18 tahun atau pasien dewasa, dengan 52,5% pasien yang didiagnosa lupus renal dan 47,5% lupus non-renal. Regimen terapi yang digunakan meliputi monoterapi hidroksiklorokuin (HCQ) maupun kombinasi HCQ dengan azatioprin, metotreksat (MTX), mikofenolat mofetil (MMF), siklofosfamid (CYC), dan rituximab (RTX). Berdasarkan regimen terapi, kombinasi MP+HCQ+MMF memberikan perbaikan proteinuria terbanyak (66,7%) pada pasien lupus renal, dengan penurunan protein urin rerata sebesar 65,7%. Pada kelompok SLE nonrenal, kombinasi MP+HCQ+MTX menghasilkan capaian remisi dan LLDAS tertinggi (pada pasien anak sebesar 66,7% dan pada pasien dewasa 53,9%. Kondisi on target tertinggi dicapai pada regimen MP+HCQ+MMF pada pasien dewasa (58,8%) dan pada regimen MP+HCQ+CYC pada anak (85,7%). Sementara capaian target klinis terendah ditemukan pada regimen MP+HCQ+MMF pada pasien lupus non-renal anak (18,2%) dan dewasa (28,6%). Target terapi yang ditandai dengan penurunan skor MEX-SLEDAI dan proteinuria dicapai pada regimen MP+HCQ+MMF. Pada semua regimen terapi, efek samping yang muncul adalah gangguan saluran cerna (GERD). Selain itu, efek samping berupa striae (21,6%) ditemukan pada regimen CYC dan MMF dengan penggunaan pulse metilprednisolon. Selama terapi, ditemukan jenis infeksi terbanyak yaitu ISK (40,8%), Tuberkulosis (25,4%), dan Herpes (15,5%). Penelitian ini mendukung implementasi pendekatan treat-to-target melalui pemilihan terapi individual berdasarkan keterlibatan organ dan profil risiko pasien.