digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Vito Egi Nandriansyah
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

TUGAS AKHIR Vito Egi Nandriansyah
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Endapan nikel laterit merupakan salah satu sumber daya nikel utama di Indonesia yang terbentuk akibat pelapukan intensif batuan ultramafik pada iklim tropis. Endapan ini umumnya tersusun atas zona topsoil, limonit, saprolit, dan batuan dasar (bedrock) dengan ketebalan serta karakteristik fisik yang bervariasi secara lateral. Data bor mampu memberikan informasi litologi secara detail, tetapi bersifat titik sehingga diperlukan metode geofisika yang dapat membantu mengevaluasi kesinambungan profil laterit secara lebih menerus. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Ground Penetrating Radar (GPR), yang merekam respons bawah permukaan berdasarkan kontras sifat elektromagnetik material. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi atribut instantaneous frequency dan instantaneous phase pada data GPR sebagai informasi tambahan terhadap radargram amplitudo dalam interpretasi profil endapan nikel laterit di daerah Tapunopaka, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Data GPR diperoleh menggunakan sistem MALÅ Rough Terrain Antenna (RTA) berfrekuensi 30 MHz pada empat lintasan utama dan satu lintasan kalibrasi. Pengolahan data dilakukan menggunakan ReflexW, kemudian atribut instantaneous dihitung melalui pendekatan complex trace analysis berbasis Transformasi Hilbert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radargram amplitudo dapat memperlihatkan perubahan karakter refleksi yang berkaitan dengan variasi zona laterit. Atribut instantaneous phase membantu menelusuri kontinuitas lateral reflektor, sedangkan instantaneous frequency memperlihatkan perubahan lokal karakter frekuensi sinyal. Integrasi dengan data bor digunakan sebagai kontrol geologi untuk mengevaluasi kesesuaian batas limonit–saprolit dan saprolit–bedrock. Meskipun demikian, interpretasi masih mengandung ketidakpastian karena respons GPR merepresentasikan perubahan sifat elektromagnetik, bukan litologi secara langsung. Ketidakpastian tersebut dipengaruhi oleh transisi laterit yang gradual, atenuasi sinyal, asumsi kecepatan, koreksi topografi, dan keterbatasan sebaran data bor.