digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, namun tingkat adopsi pembayaran digital oleh usaha mikro masih terbatas akibat kurangnya kepercayaan dan kesulitan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana usaha mikro di Jakarta menghadapi tantangan dalam penggunaan pembayaran digital serta bagaimana mereka memandang perangkat soundbox sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Sebanyak 21 pemilik usaha mikro di Jakarta yang telah menerapkan metode pembayaran QRIS diwawancarai menggunakan wawancara semi-terstruktur. Temuan mengidentifikasi 3 masalah utama; pembatasan dalam alur kerja yang mengurangi kemampuan verifikasi pembayaran real-time, penipuan seperti penipuan screenshot, serta kelemahan infrastruktur seperti keterlambatan transaksi dan koneksi jaringan yang tidak stabil. Menurut pedagang yang mengadopsi soundbox pada tahap awal, penggunaannya meningkatkan efisiensi operasional, menurunkan kecurangan, dan memperkuat kepercayaan terhadap transaksi digital. Kelompok early majority bersifat heterogen dalam keterbatasan informasi, kapabilitas, dan kepuasan terhadap praktik yang ada. Penelitian ini mengidentifikasi tiga jalur adopsi—pengalaman kecurangan, observasi rekan, dan promosi langsung—yang mengatasi hambatan psikologis implementasi. Dengan mengaitkan tantangan operasional dan kesenjangan persepsi, studi ini menawarkan strategi penerapan kontekstual. Relevansi soundbox bergantung pada konteks penggunaan: lalu lintas transaksi tinggi menunjukkan kebutuhan verifikasi kuat, sementara konteks rendah menunjukkan permintaan terbatas. Wawasan ini membantu penyedia fintech memfokuskan penerapan, menyesuaikan pemasaran bagi early majority, dan menyediakan dukungan terarah untuk mendorong inklusi keuangan usaha mikro dengan tantangan verifikasi.