Sungai Cikakembang termasuk sungai dengan kualitas air paling buruk.
Dari total 56 industri yang ada di Kecamatan Majalaya, 22 buah industri tekstil
membuang limbah ke Sungai Cikakembang dengan debit rata-rata 66.058 m3
/hari.
Efluen industri tekstil mengandung logam dalam jumlah tinggi terutama
kadmium, kromium, tembaga, dan timbal yang berbahaya bagi makhluk hidup.
Pemanfaatan tanaman air untuk pengolahan air limbah merupakan metode
pengolahan air limbah terkontaminasi logam berat yang ekonomis. Oleh karena
untuk menurunkan kandungan logam berat yang ada pada Sungai Cikakembang
dilakukan fitoremediasi menggunakan dua metode yang berbeda, yaitu dengan
mengaplikasikan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) pada sistem
kontinyu (lapangan) dan mengaplikasikan tanaman Kiapu (Pistia stratiotes L.),
Kiambang (Salvinia molesta), dan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada
sistem batch (laboratorium). Kandungan logam berat Cd, Cr, Cu, dan Pb dalam air
dan tanaman diukur dengan menggunakan Inductively Coupled Plasma Optical
Emission Spectrometry (ICP-OES). Hasil yang diperoleh ialah perbandingan
penyisihan logam antara sistem kontinu dan batch. Dari hasil penelitian diketahui
bahwa pada sistem kontinu, tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat
menyisihkan logam yang paling besar yaitu Cd sebanyak 74,68%. Pada sistem
batch, tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) efektif menurunkan logam
Cd 92,63%, Cu 62,11%, dan Pb 62,21% pada paparan 50% air sungai, serta logam
Cr 57,95% dan Cu 88,18% pada paparan 100% air sungai. Tanaman Kiapu (Pistia
stratiotes L.) efektif menurunkan logam Cr 87,92% pada paparan 50% air sungai.
Tanaman kiambang (Salvinia molesta) efektif untuk menurunkan logam Cd
32,29% dan Pb 84,60% pada paparan 100% air sungai.
Perpustakaan Digital ITB