IDFreshGo berbisnis grocery secara daring dari stok toko dan supermarket rekanan dengan
janji layanan pengiriman dua jam, yang sepenuhnya dijalankan oleh kurir on-call pihak ketiga.
IDFreshGo menargetkan pemangkasan janji tersebut menjadi 30 menit sesuai standar quick
commerce di kota-kota besar Indonesia. Studi kasus tunggal ini menelaah konfigurasi jaringan,
model kurir, dan struktur biaya yang memungkinkan janji tersebut dipenuhi di Jabodetabek
sekaligus berkelanjutan secara finansial.
Data yang digunakan dalam penelitian ini utamanya bersifat kuantitatif, yaitu transaksi internal
selama 12 bulan (Juli 2024 hingga Juni 2025) berisi 406.021 pesanan terkirim dari 19 toko
dengan volume yang diskalakan ulang oleh faktor konstan yang dirahasiakan, dilengkapi
wawancara sepuluh informan dari lima peran operasional. Luas cakupan pengiriman diukur
memakai isochrone jalan terkalibrasi telemetri, skala jaringan melalui partisi k-means
berbobot pesanan dan maximal covering location model (MCLP), dan kelayakan secara
finansial melalui kerangka allowable-cost pada 7 skenario.
Konsolidasi 19 titik fulfillment berbasis toko menjadi 7 gerai mandiri (dark stores) membuat
kepadatan pesanan per gerai naik 70%, memangkas proses fulfillment 59%, dan menurunkan
waktu pengiriman end-to-end 35%. Kendati demikian, janji 30 menit belum tercapai merata
dari seluruh gerai: jaringan saat ini hanya menjangkau 23% permintaan pada layanan 30
menit, 60% pada 45 menit, dan 76% pada 60 menit. Dua metode spasial yang penulis
simulasikan menghasilkan skala yang cukup sebanding. Metode k-means membutuhkan 15 titik
tangkapan agar radiusnya 3,13 km dan memenuhi standar radius layanan 30 menit sebesar
3,17 km; sedangkan MCLP menunjukkan 10 titik yang ditempatkan optimal menjangkau
separuh total pesanan dan 22 titik menjangkau tiga perempatnya. Konfigurasi yang disarankan
adalah membuka 12 titik dengan penambahan cakupan tertinggi dari 26 kandidat, sehingga
bersama gerai eksisting terbentuk 19 gerai yang mencakup 61,2% permintaan di 10 kota
Jabodetabek ditambah dua kecamatan penyangga, dibandingkan hanya 28,8% pada jaringan
saat ini.
Skema kurir merupakan penghambat utama dalam model ini. Rata-rata waktu tunggu
penjemputan mencapai 13 menit, jauh di atas target 4 menit, dan berdampak pada 92% order.
Mekanisme kurir khusus (dedicated) memang menghilangkan waktu tunggu tersebut serta
menghemat sekitar Rp 4.600,- per pesanan, namun skema pembayarannya menciptakan batas
bawah biaya hampir Rp 18.000,- per pengiriman (atau 9,6% dari GMV), melampaui
kemampuan anggaran pengiriman last mile yang hanya sebesar 6,5% dari GMV.
Kelayakan bisnis ini bergantung pada terpenuhinya tiga kondisi secara bersamaan, yaitu
margin untuk dinegosiasikan ulang hingga mencapai titik impas 16,65% dan menuju target
18% (saat ini margin gabungan 15,37%), biaya fulfillment order (pick-pack) diturunkan ke
angka Rp 3.000,- per pesanan, serta kepadatan pesanan per gerai ditingkatkan mencapai 202
hingga 540 pesanan per hari (saat ini 64 hingga 138). Urutan langkah yang harus diambil
adalah: perbaiki skema kontrak kurir, bangun ulang struktur margin dan pangkas waktu
handover kurir, luncurkan skema janji layanan bertingkat, dan yang terakhir buka gerai baru
hanya bila tingkat pesanan di area sekitarnya sudah terbukti.
Perpustakaan Digital ITB