Sejak terjadinya Siklon Vamei pada tahun 2001, siklon yang berkembang di lintang
rendah kembali teramati di pesisir timur Pulau Sumatra melalui kejadian Siklon
Senyar pada 25–28 November 2025 dan memicu genangan pesisir di sepanjang
wilayah yang dilewatinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika
arus, elevasi muka air laut, dan genangan akibat kejadian Siklon Senyar di pesisir
timur Pulau Sumatra. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan model
hidrodinamika tiga dimensi Semi-implicit Cross-scale Hydroscience Integrated
System Model (SCHISM) dengan periode simulasi 12 Oktober hingga 12 Desember
2025 yang menggunakan input pasang surut astronomis dari data TPXO10v2 serta
parameter atmosfer dari kombinasi data European Center for Medium-Range
Weather Forecasts Reanalysis 5 (ERA5) dan lintasan siklon dari International Best
Track Archive for Climate Stewardship (IBTrACS) untuk mereplikasi storm tide
dengan baik. Pemodelan juga dilakukan dengan menerapkan unstructured grid
yang menggunakan data garis pantai dari OpenStreetMap (OSM) dan batimetri
serta topografi dari General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO) 2026, serta
skema wetting and drying untuk memprediksi luapan air laut ke daratan di wilayah
pesisir dangkal. Hasil verifikasi model menunjukkan kesesuaian yang baik dengan
data observasi dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Intergovernmental
Oceanographic Comission (IOC) dengan nilai korelasi elevasi berkisar antara 0,846
hingga 0,955 dan kecepatan arus pasang surut (u, v) dari TPXO10V2 antara 0,794
hingga 0,981. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Siklon Senyar memicu kenaikan
arus pesisir hingga 0,6 m/s di pesisir timur Sumatra Utara. Kenaikan muka air laut
non-astronomis tertinggi tidak terjadi di pusat mata badai yang mencapai 0,12 m,
melainkan terakumulasi hingga mencapai 0,409 m di perairan semi-tertutup
Langkat, Sumatra Utara 21 jam setelah Siklon Senyar mencapai intensitas
maksimumnya. Penjalaran storm surge juga terdeteksi merambat dari arah utara ke
selatan Selat Malaka dengan jeda waktu kedatangan yang semakin bertambah ke
arah selatan. Analisis spasial memperlihatkan bahwa wilayah paling terdampak
genangan adalah Sungai Rokan dengan jangkauan maksimum mencapai 2,5 km dari
garis pantai.
Perpustakaan Digital ITB