digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang atau Wave Energy Converter (Wave Mill) di wilayah pesisir berpotensi memodifikasi kondisi hidrodinamika lokal, khususnya pola dan kecepatan arus, yang dapat memengaruhi transpor sedimen dan morfologi pantai. Penelitian ini menganalisis pola sirkulasi arus di perairan Pantai Niyama, Tulungagung, pada kondisi eksisting dan setelah pemasangan Wave Mill pada konfigurasi single unit dan farm (tiga unit) di empat lokasi kandidat (T1 sampai T4), serta membandingkan besar dan sebaran spasial dampaknya antar-skenario dan antar-lokasi untuk mengidentifikasi skenario yang paling berdampak. Penelitian menggunakan pemodelan numerik dua dimensi depth-averaged dengan MIKE 21 Flow Model FM. Struktur Wave Mill direpresentasikan melalui modifikasi koefisien kekasaran dasar Manning pada elemen mesh yang dilalui struktur. Simulasi dijalankan dalam sebelas skenario selama 18 hari, dengan model tervalidasi baik terhadap data tide gauge Prigi dan Tidal Model Driver. T1 menghasilkan dampak terbesar, dengan penurunan kecepatan arus maksimum 8,9 hingga 8,943 persen, sedangkan T2 hingga T4 di bawah 1 persen. T4 menghasilkan dampak terluas di antara keempat lokasi. Peningkatan unit dari single unit menjadi farm meningkatkan magnitudo dampak maksimum di T1 hanya sedikit, dari 8,9 menjadi 8,943 persen, namun memperluas radius pengaruhnya dari 112,4 m menjadi 285,4 m. Secara keseluruhan, dampak hidrodinamika Wave Mill tergolong sangat terbatas secara spasial.