Abstrak - MUHAMMAD RAKHA SAIDINA
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Di era digital, serangan siber telah menjadi salah satu perhatian utama bagi hampir
seluruh institusi. Di antara berbagai jenis serangan tersebut, serangan bertahap
(multi-stage attack) merupakan salah satu kelompok serangan yang paling
berbahaya. Serangan ini dilakukan melalui serangkaian tahapan sebelum mencapai
tujuan akhirnya, bahkan tujuan tersebut dapat dicapai melalui beberapa tahap
lanjutan. Karakteristik tersebut memberikan peluang bagi Security Operations
Centre (SOC) untuk memanfaatkan informasi dari tahapan awal serangan guna
memprediksi serangan pada tahap berikutnya.
Dalam praktiknya, deteksi berbasis MITRE ATT&CK dan deteksi berbasis anomali
merupakan dua pendekatan yang umum digunakan untuk mendeteksi serangan
siber. Meskipun demikian, kedua pendekatan tersebut memiliki keterbatasan.
MITRE ATT&CK membutuhkan sumber daya yang relatif besar untuk
diimplementasikan, sedangkan model berbasis anomali umumnya belum
memanfaatkan informasi dari tahapan serangan sebelumnya secara optimal. Di sisi
lain, Cyber Kill Chain (CKC) dari Lockheed Martin memodelkan serangan
bertahap sebagai rangkaian tahapan yang dilakukan secara sekuensial. Pada
penelitian ini, tujuh tahapan CKC disederhanakan menjadi tiga tahap operasional,
yaitu reconnaissance, privilege escalation, dan exploitation. Penyederhanaan
tersebut menghasilkan kerangka kerja yang tetap mampu memanfaatkan informasi
historis dari tahapan serangan dengan kebutuhan sumber daya yang relatif lebih
rendah dibandingkan implementasi MITRE ATT&CK.
Berdasarkan pendekatan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan
mengembangkan arsitektur machine learning yang mampu memprediksi entitas
yang berada dalam bahaya berdasarkan hasil deteksi serangan pada tahapan
sebelumnya, beserta dashboard untuk memvisualisasikan hasil prediksi tersebut.
Untuk memenuhi tujuan penelitian, telah dirumuskan empat persyaratan desain.
Pertama, sistem harus mampu mendeteksi serangan tahap 1 dan tahap 2 dengan
nilai recall minimal sebesar 80%. Kedua, sistem harus mampu memprediksi entitas
yang berpotensi menjadi target serangan tahap 3 dengan nilai recall minimal
sebesar 70%. Ketiga, sistem harus memperoleh System Usability Score (SUS)
minimal sebesar 80%. Keempat, seluruh data dan visualisasi pada dashboard harus
dapat ditampilkan tanpa kegagalan Sistem yang dikembangkan terdiri atas dua subsistem yang saling terintegrasi, yaitu
Subsistem 1: Machine Learning Models dan Subsistem 2: User Interface.
Subsistem 1: Machine Learning Models dibangun dalam dua level, yaitu level
aktivitas jaringan dan level entitas. Level aktivitas jaringan bertugas mendeteksi
serangan tahap 1 dan tahap 2 serta menghasilkan probabilitas terjadinya serangan.
Selanjutnya, level entitas memanfaatkan informasi tersebut untuk memprediksi
dst_ip yang berpotensi menjadi target serangan tahap 3. Di sisi lain, Subsistem 2:
User Interface menerima keluaran dari setiap model beserta data network flow
untuk ditampilkan dalam bentuk dashboard interaktif.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa objektif pada Subsistem 1: Machine Learning
Models berhasil dipenuhi. Pada level aktivitas jaringan, model Random Forest
menghasilkan recall sebesar 88% untuk deteksi serangan tahap 1 dan 82% untuk
deteksi serangan tahap 2. Sementara itu, pada level entitas, arsitektur Random
Forest to XGBoost, yaitu Random Forest sebagai stage probability generator dan
XGBoost sebagai model prediksi utama, memperoleh recall sebesar 78%. Selain
itu, penelitian ini juga membandingkan performa arsitektur tersebut dengan
pendekatan prediksi langsung tanpa memanfaatkan informasi serangan historis
sebagai sinyal tambahan untuk membantu prediksi. Pendekatan tersebut
menghasilkan performa terbaik sebesar 67% recall menggunakan model XGBoost.
Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan CKC sebagai dasar penyusunan arsitektur
prediksi mampu meningkatkan performa prediksi entitas dalam bahaya
dibandingkan pendekatan prediksi langsung, dengan peningkatan kebutuhan
komputasi yang relatif tidak signifikan.
Pengujian terhadap Subsistem 2: User Interface juga menunjukkan bahwa seluruh
objektif telah terpenuhi. Hasil evaluasi menghasilkan nilai System Usability Score
sebesar 86%, sementara seluruh data dan visualisasi pada dashboard berhasil
ditampilkan dengan baik tanpa mengalami kegagalan.
Perpustakaan Digital ITB