Dinamika klorofil-a di Selat Sunda dipengaruhi oleh kondisi musiman serta
kejadian vulkanik seperti erupsi Anak Krakatau pada Desember 2018. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial dan temporal klorofil-a pada
periode 2018–2019 menggunakan data bulanan Copernicus Marine Environment
Monitoring Service (CMEMS) pada tujuh stasiun pengamatan, yang diverifikasi
dengan data pengukuran lapangan (in-situ) bulan September 2017 dan April 2018.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pola musiman yang signifikan, di mana
konsentrasi klorofil-a tertinggi teramati pada musim JJA (Juni-Juli-Agustus) dan
SON (September-Oktober-November) di pesisir timur selat (> 3 mg/m3
),
sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada musim MAM (Maret-April-Mei).
Pada musim DJF (Desember-Januari-Februari), konsentrasi maksimum bergeser
ke arah utara selat. Secara umum, rata-rata konsentrasi klorofil-a pada tahun 2019
lebih tinggi dibandingkan tahun 2018. Pada resolusi skala bulanan, erupsi Anak
Krakatau mengakibatkan penurunan konsentrasi klorofil-a di Stasiun 5 (?
0,38 mg/m3
). Analisis skala harian pada periode 22–28 Desember 2018
menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil-a secara signifikan pascaerupsi
Anak Krakatau, di mana nilainya terus meningkat hingga mencapai puncaknya
sebesar 0,63 mg/m3
pada 28 Desember 2018, namun dampak erupsi ini
cenderung bersifat lokal di sekitar Gunung Anak Krakatau dan tidak meluas ke
wilayah perairan lain.
Perpustakaan Digital ITB